WHAT'S NEW?
Loading...

Mengapa Belum Menikah

Beberapa kali membaca kolom For Her di harian Jawa Pos, dan membaca ketentuannya untuk mengirimkan naskah yang ‘sepertinya’ tema yang boleh dikirimkan mengenai kisah-kisah sehari-hari yang tidak njlimet-njlimet banget. Akhirnya saya pun coba-coba ikutan kirim naskah, tentang sebuah pertanyaan yang secara berulang ditujukan pada saya, meski tuh orang yang bertanya sudah bertanya tetap saja suka untuk mengulang pertanyaan tersebut tiap kali bertemu.  Bismillahirrahmaanirrahiim sebenarnya saya sudah pesimis tulisan tersebut bisa lolos dari filter-nya redaksi karena sudah hampir sebulan tak kunjung ada penampakan di halaman For Her Jawa Pos. Hingga kemudian setelah libur lebaran usai dan saya sudah berada kembali di Bumi Balambangan, sebuah sms dari teman mengabarkan jika tulisan saya muncul di edisi hari itu, Kamis 23 Agustus 2012. Penulis amatiran seperti saya gini tentu sangat surprised manakala tulisannya bisa numpang nampang di harian Nasional, meskipun hanya tulisan curcol duang sih.


Saat saya mengirimkan naskah tersebut+ jika lolos atau pun tidak lolos dari meja redaksi memang akan saya publish di Blog. Dan kebetulan, saat saya capture tulisan saya di Jawa Pos, ada teman yang terlewatkan membaca dan rikues untuk dipublish di Blog, jadi dengan senang hati saya publish versi asli dari naskah yang saya beri judul “Menghalau Pertanyaan galau seputar status masih single”. Tanpa mengubah arti, memang pada naskah yang terbit terdapat beberapa part yang mengalami editing dan  berikut ini versi asli narasi tulisan saya:
=========================================================================
                Bergender perempuan dan hidup lekat dengan budaya ketimuran: lingkungan keluarga, komunitas teman-teman sekolah/kuliah serta society dimana kita bekerja dan berdomisili, maka salah satu yang tak akan bisa dihindari manakala usia sudah melewati angka seperempat abad dan belum menikah adalah: pertanyaan setipe dan senada yang dihujankan mengenai status quo atau single yang masih kita sandang. Pertanyaan ini pula yang mulai rajin menghiasi hidupku saat usia menginjak 27 tahun dan sampai detik ini.
Pertanyaan dan bahasan  soal menikah masih jadi sapaan akrab untukku, mulai dari teman sekolah, rekan kerja, tetangga, sanak saudara bahkan orang yg baru aku kenal pun dengan demikian santainya mempertanyakan kenapa aku belum menikah, kapan aku menikah..bla..bla.. . Pertanyaan yang menyesak di dadaku sepanjang musim kemarau dan hujan.  Telebih jika ada moment khusus, seperti ada acara reuni, gathering karena saudara/teman menikah, apalagi saat lebaran. Sepertinya semua orang mendadak jadi sosok yang ‘sok concern’ dengan intonasi inoccent melontarkan pertanyaan kenapa belum menikah dan kapan menikah?
Status belum menikah untuk wanita di usiaku, apalagi di desa membiaskan friksi  antara sebutan, istilah, atau bahkan sindiran.
Adakah mereka tahu, bahwa pertanyaan-pertanyaan mereka itu justru menambah beban psikologis semakin kompleks. Toh tanpa mereka tanya pun aku juga ingin menikah seperti orang-orang yang lain? Adakah mereka tahu bahwa resiko kesehatan karena terlambat menikah yang kuhadapi juga sudah membuatku terbebani? Teman-teman seusiaku, bahkan yang jauh lebih muda dariku sudah menapaki bahtera rumah tangga dengan anak dua, tiga bahkan ada yang 4 anaknya. Dan aku yakin, naturally tak ada wanita yang ingin ‘telat’ menikah. Harapan idealnya tentu mata rantai kehidupan berjalan lancar dan normal: lulus sekolah, mendapatkan pekerjaan dan menikah menikmati hidup berkeluarga yang happy ending.

Kalau pertanyaan tersebut datangnya dari teman sebaya, relatif lebih mudah menjawabnya: kembalikan saja dengan pertanyaan yang sama. Jika ada yg nge-judge dengan stigma irrasional semisal “ terlalu pilih-pilih”, aku lempar lagi dengan cepat: Lha memangnya kamu beli baju gak pernah milih? Gak pernah ngukur pas di badan apa gak? Ya intinya memang jangan sampai terbawa emosi saat menerima pertanyaan demikian. Kalau menanggapi pertanyaan dari orang yang lebih senior juga perlu strategi agar tidak dikira ‘kurang ajar’. Aku sering menjawab dengan kalimat diplomatis: Ya tolong dikenalin dong biar ikhtiarnya lebih cepat. Biasanya mereka akan menjawab: takut tidak cocok... jawaban yang super ajaib kan? Lha mengenalkan saja belum kok sudah membuat kesimpulan tidak cocok?!
Aku memang masih bisa re-design sikap dan pembantahan dengan argument yang ‘manis’ manakala menghadapi penilaian, sindiran dan judgement dari orang lain [sekitar]. Tapi jika hal ini yang memunculkan adalah orang tuaku [terutama ibuku yang lebih sering], maka setiap kali pembicaraan pada tema tentang menikah, selalu kulihat mata ibuku ada lapisan bening yang mulai mengembang, dan aku pun terdiam dalam kelu sambil menata gejolak hati. Jika air mataku sampai menitik, tak ayal Ibuku juga akan menangis. Melihat ibuku menangis, terlebih akulah yang menyebabkan air mata kesedihan itu keluar…sungguh sembilu yg teramat meyayat hati. Hati seorang anak mana yang tak akan berkeping jika dirinya jadi penyebab keresahan, kesedihan dan kegalauan bagi ibunya? Maka jika konteksnya menghadapi ortu, aku lebih memilih no comment dulu dan menunggu suasana kondusif untuk perlahan-lahan memberikan penjelasan yang andhap asor. Dan scene itu kuhadapi secara berulang setiap kali mudik, bisa kumaklumi karena usia ortuku yang semakin sepuh, kisaran 80 tahun!
 Yang pasti, seberapa pun aku berkeras harap, b’usaha serta b’doa agar cepat menikah tapi aku tidak bisa memaksakan itu padaNYA kan? Aku hanya punya hak untuk b’usaha dan b’doa dari rencana dan harapan yang aku punyai, keputusan terbaik tetap Allah SWT yang menentukan. Jika sampai detik ini belahan jiwa yang dijanjikanNYA belum dipertemukan denganku, tiap kali ada yang menyodorkan pertanyaan tentang kapan aku menikah, terlebih saat suasana lebaran seperti Idhul Fitri nanti sudah aku persiapkan jawaban sakti mandraguna yang ampuh untuk menghalau pertanyaan yang bikin galau dengan jawaban terbaik yang menegarkan hati serta penuh keyakinan “ Hidup sudah ada yang Maha Mengatur, jatahku hanya menjalani sebaik yang aku bisa…”
========================================================================


Adakah yang tertarik untuk ikutan mencoba nitipin tulisan curhat di Jawa Pos juga? Nothing to lose to try, we’ll get new experience.....at least, seneng deh bisa sesekali numpang narsis di koran nasional #teuteup Narsis every where dwehhhhh semoga kelak bisa nampilin tulisan yang lebih baik [http://www.jawapos.com/teks/read/2012/08/23/26/265719/mengapa-belum-menikah]





Oleh - Oleh Lebaran

Meski lebaran sudah berlalu dan hari raya ketupat juga sudah habis ketupatnya, tapi saya  masih punya Oleh-Oleh lebaran yang bisa dibagi-bagikan, hayooo siapa yang mauu...? Bismillahirrahmaanirrahiim sebenarnya sih karena awal bulan Agustus lalu di inbox FB oleh admin sebuah produk susu yang menginformaiskan sekaligus mengundang untuk ikutan lomba rekarasa bikin puding. Dari awal saya sudah menyatakan niat [dalam hati] untuk ikutan, lha bikin puding kan gak sulit-sulit banget, asal berani campur aduk dan gak bikin keracunan jadi deh tuh puding. Ya resiko terburuknya paling gak ada yang mau makan saja tho? Dan kebetulan saya di Banyuwangi hidup minimalis alias tidak punya perlengkapan masak yang lengkap, ya ada sih alat untuk masak yang cukup available buat air kalau mau bikin teh, susu atau kopi.

Melihat DLnya sampai 30 Agustus 2012, maka saya pun lebih bersemangat untuk ikutan, kan bisa saya kerjakan di rumah dan ada laskar bantuan gratis serta ada pasukan sapu bersihnya kalau sudah jadi tuh puding. Lebaran banyak keponakan di rumah jadi bisa ‘dipaksa’ untuk ngabisin hasil rekarasa puding sehingga gak mubadzir deh. Nah kalau gak mau ngabisin, tinggal diultimatum angpao-nya dihold saja #tantejahatMODE ON.  Lha hadiahnya sangat memikat hati, waktunya masih lama dan bahan-bahan bikin puding kan gak sulit-sulit banget. Kalau menang ya Alhamdulillah sekali, kalau gak menang ya anggap saja membangkitkan semangat untuk suka [kembali] coba-coba dan trial eror bikin kue.

Dan inilah hasil rekarasa puding mendadak Chef ala Ririe Khayan dengan dua asisten keponakan: Ika Ayu dan Wiwit Eka. Puding yang kami buat pun gak neko-neko, hanya memanfaatkan bahan-bahan yang sudah ada di rumah. Nothing to lose to try deh pokoknya. Eh, ada ding yang beli, bahan baku utama agar-agarnya dan beberapa pernik untuk garnis tapi tetap low budget dan maksimal hasilnya, maksudnya delicious untuk disantap bagi para pasukan sapu jagat yang mudik lebaran kemarin. Demi mematuhi syarat dan ketentuan lomba, maka hanya foto-foto yang tidak diposting dalam naskah lomba yang saya publish di sini, tentunya tanpa publish resep dan nama puding juga. Hehehe...inilah 5 varian rekarasa puding hasil acak-acak resep imajiner Saia. 

1. Puding berbahan nata de coco



2. Puding dengan variasi biskuit



3. Puding dengan buah pisang dan jeruk




4. Puding mandi VLA



5. Puding ala suka-suka saia

Bagi yang penasaran, silahkan ikutan juga lho..DL-nya masih 30 Agustus jadi masih cukup waktu untuk ikut bersaing dengan saya. Silahkan Daftarkan diri Anda pada Link di SINI dan bersiaplah mendadak jadi Chef puding yang cantik seperti saia...


We’ll never know how great we’re till we try with the best efforts


Cantik alami dengan Kosmetik Halal

" Life is beautiful dan menjadi cantik yang sejati adalah memiliki karakter dan kepribadian yang berlandaskan kemuliaan hati sehingga membawa manfaat bagi sesama"
dan Bismillahirrahmaanirrahiim selain itu dari sedikit pengetahuan yang saya tahu bahwa seiring bertambahnya usia maka kemampuan kulit  untuk regenerasi sel-sel kulit akan menurun. Padahal kulit adalah salah satu yang menjadi perhatian utama karena mendominasi  dalam penampilan. Pada saatnya, kondisi kulit akan berubah dari masa ke masa baik secara fisiologis maupun karena pengaruh berbagai faktor lainnya. Proses menua pada kulit maupun pada organ tubuh lainnya adalah proses alamiah yang akan dialami oleh semua orang. 

Namun demikian, proses tersebut (awal penuaan kulit) pada setiap orang tidak sama. Untuk orang-orang tertentu proses penuaan kulit dimulai sesuai dengan usianya. Sedangkan lainnya, bisa terjadi lebih lambat dari usianya atau malahan lebih awal [penuaan dini]. Mereka yang mengalami proses penuaan lebih lama dari usianya, seringkali digolongkan orang yang awet muda. Proses menua pada kulit  seiring bertambahnya usia adalah proses alamiah yang akan dialami oleh semua orang, proses awal penuaan kulit ini masih bisa dihambat jika kita membiasakan diri untuk memberikan nutrisi yang mendukung untuk proses regenerasi  kulit.

Kulit  yang sehat dan cantik alami memang dambaan semua orang, apalagi bagi kaum hawa. Dengan landasan pemikiran di atas, yaitu mantain attitude dan berkebiasaan hidup yang sehat maka akan diperoleh pancaran kecantikan diri  yang alami dan penuh keanggunan. Saya tumbuh dan besar diantara saudara laki-laki karena kedua saudara perempuan saya sudah merantau sejak saya masih di bangku SD.  Sedikit banyak, life style saya pun terpengaruhi oleh saudara laki-laki, sehingga saya terbiasa untuk berpenampilan natural alias lebih suka tampil dengan riasan diri secukupnya yang tidak pakai ribet. Maka saya sangat tidak sependapat ketika ada yang bilang: untuk cantik itu butuh biaya mahal ~ beauty is expensive [karena dia menjadi konsumen klinik kecantikan untuk mendapatkan penampilannya yang kinclong]. Saya lebih meyakini bahwa rahasia kulit cantik adalah kemauan untuk membiasakan diri dengan pola hidup yang sehat:
  1. Minum air putih yang cukup (saya minum kira-kira sampai 2liter dalam sehari)
  2. Gemar makan sayur dan buah (sehingga ada yang kurang kalau dalam menu makanan tidak ada sayur dan buah) dan minum susu setiap pagi
  3. Rajin mengkonsumsi multivitamin.
  4. Saya juga tidak suka merokok, gak suka alkohol dan tidak tertarik dengan narkoba.
  5. Dan (mungkin orang lain jarang melakukan) saya suka mengoleskan jeruk nipis atau tomat di wajah.
  6. Juga tak lupa dengan kebiasaan membersihkan wajah dan menggunakan pelembab yang formulanya friendly dan simultan untuk menjaga kesehatan kulit.
Selain pola hidup sehat di atas, saya juga berusaha membiasakan diri untuk melakukan senam setiap hari minggu dan jogging.

Enam formula kecantikan tersebut tak hanya sebuah afirmasi, karena pada kenyataannya performance kulit saya memang memiliki elastisitas yang sangat baik, tampak segar dan banyak  orang masih sering mengira kalau saya masih anak SMA padahal sudah lulus sekolah bertahun-tahun! Dengan kebiasaan pola hidup sehat tersebut yang memberikan kontribusi secara intrinsik terhadap kecantikan dan kesehatan kulit, sehingga keseharian saya hanya perlu berdandan dengan sedikit kosmetik yaitu mengoleskan pelembab merata di permukaan wajah kemudian ditutup dengan bedak tipis-tipis yang penting sudah terlihat lebih segar dan cantik natural tentu saja. Makanya meskipun sudah berkerja dan punya penghasilan sendiri tapi life style saya tetap tidak neko-neko untuk urusan kosmetik.

Hingga suatu kesempatan saya bertemu dengan seorang rekan kerja yang lebih senior [usianya] yang bertugas di kantor Surabaya. Sebenarnya pertemuan [+ 5 tahun lalu] itu sudah biasa, toh hampir setiap bulan saya memang ke Surabaya terkait dengan masalah pekerjaan. Yang menjadikan kebertemuan tersebut memiliki arti penting adalah karena saat itu teman tersebut sedang menjalani treatment medis untuk kasus flek-flek hitam di wajahnya. “Pola hidup sehat memang memegang peran yang confidential terhadap kesehatan kulit, tapi kita juga tidak bisa mengabaikan faktor eksternal dari lingkungan sekitar” ujarnya ketika saya bertanya kenapa sampai jadi pasiennya dokter spesialis kulit.  Dia harus rela mengeluarkan dana ekstra untuk melakukan perawatan kulit karena wajahnya muncul flek-flek hitam yang sangat menggangu penampilannya.

Dari hasil pemerikasaan medis, flek-flek tersebut BUKAN diakibatkan oleh gonta-ganti merek kosmetik, melainkan karena faktor eksternal yaitu kualitas udara dengan pencemaran yang  cenderung meningkat dan ditambah dengan paparan sinar matahari yang terik yang tak bisa dihindari. Dia setiap hari berangkat dan pulang kerja dengan berkendara sepeda motor untuk rute Sidoarjo – Surabaya yang selalu dipadati oleh ratusan kendaraan dari berbagai  jenis, mulai dari angkot, motor, mobil pribadi, bus, dan kendaraan sejenis lainya. Kondisi udara yang terdispersi partikel gas CO dan polutan lainnya, secara significant akan berdampak pada kulit yaitu bisa mempercepat proses produksi melanin di dalam kulit [melanogenesis], dan menyebabkan timbulnya noda hitam pada kulit sehingga kulit terlihat lebih kusam serta warna kulit tidak merata, yang lebih parah bisa terjadi penuaan dini, keriput bahkan kanker kulit!

Pada dasarnya saya juga bukan tipe orang yang suka coba-coba kosmetik, dulu-dulunya juga kalau pilih produk kosmetik ya asal cocok dan comfort saja sudah cukup bagi saya. Indikatornya selain harga terjangkau adalah: kalau pelembab wajah tentu tidak bikin wajah jerawatan, untuk hand body tidak membuat kulit saya bersisik dan untuk lipcare tidak membuat bibir saya pecah-pecah atau malah kering. Tapi sejak bertemu teman yang mengalami flek-flek di wajahnya, saya mulai concern untuk menggunakan kosmetik yang cooperative untuk kesehatan kulit , tepatnya pelembab bibir dan hand body lotion dan pelembab wajah yang ingredientnya bisa secara aktif menekan dan mengunci melanin di bawah permukaan kulit dan bisa memberikan perlindungan maksimal terhadap sinar UVB dan UVAToh kulit cantik itu bukan dilihat dari putih atau tidaknya tapi lebih pada sehat atau tidak. Dan dalam definisi saya kulit cantik adalah kulit yang sehat, yang terjaga kelembabannya dan kebersihannya.

Kecantikan diri tidak hanya dilihat dari dandanan luar karena cantiknya seorang perempuan juga dilihat dari perilaku yang baik, pikiran positif dan pintarnya kita merawat kulit tubuh. Dengan dua arah maintain yaitu secara internal  membiasakan dengan pola hidup sehat dan secara eksternal menggunakan produk kosmetik yang cocok, comfort dan cooperative terhadap kesehatan kulit. 

Dengan dua langkah strategis ini otomatis membuat saya tetap bisa tampil cantik  dengan cara praktis dan kilat. Cukup membersihkan wajah dengan facial foam dan menggunakan pelembab wajah sebelum memoleskan bedak setiap kali memulai aktiftas, menggunakan pelembab bibir karena saya sering beraktifitas dalam ruang laboratorium yang harus berAC sehingga bibir jadi terasa kering dan ini sudah cukup untuk penampilan dalam seharian. Tentu saja juga menggunakan hand body lotion untuk kulit tangan dan kaki. Kalau hari libur [Sabtu/Minggu] menyempatkan untuk memanjakan wajah dengan pembersih dan penyegar sehingga perawatan wajah lebih optimal.

Pada gilirannya saya pun secara tidak sengaja ‘berkenalan’ dengan produk kosmetik Wardah. “ Mbak, temenin cari sabun wajah ya..” ajak Mbak Patmi [sekira 2 tahun lalu]. Dia memiliki jenis kulit yang cenderung kering. Saat itu kami sepakat mendatangi salah satu swalayan di kota Banyuwangi yang sudah terkenal menyediakan aneka produk  kosmetik lebih lengkap dan selalu ada discountnya. Niat awalnya sih mau beli sabun wajah yang jenisnya sama dengan yang dipakai sebelumnya. Ketika melewati stand Wardah terbersitlah rasa ingin [lebih] tahu tentang produk-produk kosmetik yang sudah beberapa kali saya lihat wira-wiri tampil iklannya dengan brand Ambasador Inneke Koesherawati tersebut. 

Tak kenal maka tak sayang, nah kalau belum kenal maka berkenalanlah agar bisa sayang [suka]. Inilah awal pertama saya mulai menggunakan produk Wardah, kala itu saya yang hanya menemani akhirnya ikutan tertarik untuk membeli pelembab bibir kemudian lanjut hand body dan semoga selanjutnya bisa all series menggunakan produk Wardah. Maklum saat ini saya masih user dengan make up minimalis, jadi masih cukup dengan menggunakan pelembab wajah dan bibir, bedak, lipstik serta hand body. Awalnya saya terkesan dengan konsep kosmetik yang mengedepankan unsur halal, kemudian terpana dengan harganya yang relatif terjangkau oleh saya dan menjadi terpikat ketika sudah menggunakan ternyata formulanya cocok, comfort dan cooperative dengan kulit saya. Pelembab bibirnya ringan dan lembut, hand bodynya mudah meresap di kulit dan terasa halus, aroma deodorantnya tidak menyengat karena saya memang tidak tahan dengan bau parfum yang harumnya kuat,
Mbak sales promotion girl Wardah yang kami temui kala itu berpenampilan memakai hijab yang modis dan make up minimalis yang terlihat segar dan natural. Dia memberikan penjelasan yang sangat impressif tentang berbagai produk wardah, kandungannya, serta memberikan contoh cara make over yang benar [karena waktu itu kami yang ‘buta’ tentang merias wajah dengan make up lengkap dan mumpung ada konsultasi gratis jadi ya bertanya tentang cara menggunakan make up secara lengkap]. Dia menjelaskan step by step cara menggunakan make up wajah agar tampak cantik alami seperti riasannya, tak tanggung-tanggung dengan cara mempraktekannya langsung [saya mbatin waktu itu, deuuhh...sabar nian ya si Embak], kurang lebih inilah tutorial make over natural yang masih saya ingat:
  1. Mulai dari persiapan awal yaitu membersihkan wajah sebelum dioleskan pelembab dan disapukan bedak secara merata dengan warna yang senada warna kulit kita.
  2. Kemudian cara merapikan alis, menyapukan perona mata yaitu dengan warna eye shadow sesuai kulit dimana warna muda pada kelopak mata atas dan warna lebih tua pada bagian bawah.
  3. Membuat bingkai mata dengan cara menarik garis dari ujung kelopak mata bagian atas kemudian cara yang sama pada kelopak bagian bawah.
  4. Memoleskan blush on yang senada dengan warna eye shadow yang disapukan pada tulang pipi dan disesuaikan dengan bentuk wajah.
  5. Finishing dengan mengulaskan lipstick. Bentuk bibir menggunakan kuas agar rapi dimana sebelum atau sesuda lipcare agar kelembapan bibir terjaga.
Setelah saya coba-coba sendiri, ternyata yang paling susah adalah membuat bingkai mata dan Alhamdulillah ternyata sampai sekarang saya masih percaya diri berpenampilan minimalis yang kilat dan praktis dengan pelembab wajah, bedak, lipcare, hand body dan deodorant saja. Bolehlah sesekali tampil dengan make over sperti yang telah diajarkan oleh Mbak SPGnya Wardah. Dan point yang disampaikan yang paling MakJLEB adalah logo HALAL  dari MUI pada produk kosmetik  Wardah.

Sejujurnya, sebelumnya saya “terlupakan” jika kosmetik pun harus memenuhi aspek halal seperti halnya makanan. Dari peristiwa perkenalan lebih dekat dengan kosmetik Wardah tersebut, saya jadi belajar untuk “membaca” lagi Surat Al-Maidah ayat 3 “Diharamkan bagimu [memakan] bangkai, darah, daging babi, [daging hewan] yang disembelih atas nama selain Allah, [hewan] yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkan binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan [diharamkan bagimu] yang disembelih untuk berhala”. Berdasarkan konteks ayat tersebut, harusnya memilih kosmetik pun tak hanya aspek kualitas dan safetynya, tapi jaminan “HALAL” harus jadi prioritas utama.

Adanya logo halal MUI merupakan satu langkah jitu dan bisa dijadikan barometer untuk memilih sebuah produk secara comprehensive. MUI sebagai Competent Authority yang mengeluarkan sertifkat halal  pada suatu produk pastinya sudah melalui serangkaian tahapan yang memenuhi kriteria kehalalan yaitu meliputi jaminan quality, safety dan healthy terhadap raw material [bahan baku] yang diformulasikan sesuai International Dermatologist Standart serta penjaminan mulai awal hingga akhir proses produksi dilakukan dengan Good Manufacturing Processing [GMP] yang menjaga ketat dari paparan hal-hal yang berpotensi mencemari kosmetik terkena najis atau menjadi haram.

Semakin meningkatnya ‘obsesi’ kaum hawa untuk tampil cantik menawan dan perkembangan teknologi sehingga beragam jenis kosmetik pun membanjiri pasaran tradisional sampai modern. Baik yang dijual secara door to door hingga secara On line dimana masing-masing produk menonjolkan berbagai keunggulannya untuk mempercantik wajah dan memperindah penampilan. Persaingan bisnis dan profit oriented di satu sisi, dan sisi lainnya adalah impian para wanita untuk memiliki performance putih cantik seperti para selebriti dan bintang iklan, merupakan dua sisi yang berkombinasi secara tak terpisahkan yang nyata-nyata membuat produsen kosmetik menggunakan bahan-bahan yang seringkali mengandung zat berbahaya bagi kesehatan kulit, tidak jelas status kehalalannya, atau bahkan terkontaminasi najis dalam proses pembuatannya. Hal ini tentu sangat merugikan konsumen terlebih lagi konsumen muslimah.

Seperti kita tahu, kosmetik dapat digolongkankan dari sumber bahan bakunya yaitu: tumbuhan, hewan, sintetik kimia, mikroba dan manusia. Dan ada beberapa bahan yang memiliki critical control point [CCP] berbahan haram  atau bahkan memang terbuat dari bahan-bahan kosmetik yang jelas-jelas haram, antara lain: plasenta, cairan amnion, glyserin,  kolagen, gelatin [digunakan sebagai stabilzer vitamin], hormon, senyawa Asam Alfa Hidroksi [AHA] dan masih banyak sumber bahan kimia seperti Mercury dan hidroquinon dalam pembuatan kosmetik, yang semuanya memiliki pengaruh magic untuk kecantikan kulit dan harus dicermati sumber [halal/diharamkan] serta bahayanya bagi kesehatan.

Lembaga MUI memang tidak bekerja sendirian untuk merilis sertifikat halal. MUI bekerja sama lembaga yang terkait dengan jenis produk yang mengajukan proposal halal, baik secara langsung maupun tidak langsung. Yang saya maksud dengan bekerja secara tidak langsung adalah adanya beberapa persyaratan dokumen yang harus dipenuhi dimana dokumen tersebut harus dirilis oleh lembaga independent yang credible. Salah satu contohnya, di tempat saya bekerja [Laboratorium Pengujian Mutu Hasil Perikanan] pernah beberapa kali menerima konsumen  yang mengajukan order uji mutu produknya. Karena daftar order ujinya berbeda dari sampel rutin [produk ikan yang akan diekspor] biasanya, saya pun menyempatkan bertanya pada sang konsumen tersebut apa peruntukannya pengujian mutu yang diminta, katanya untuk memenuhi persayaratan logo halal dari MUI. Dan untuk merilis logo halal pada produk kosmetik MUI telah menggandeng LPPOM yang memiliki kompetensi pengujian mutu terhadap produk kosmetik. Sedangkan untuk memastikan kriteria logo halal, MUI sebagai lembaga yang membawa visi dan misi halalan thoyyiban pastinya memiliki program audit terhadap sumber bahan baku dan alur proses produksi secara menyeluruh.

Jadi menurut saya, adanya logo halal pada kosmetik memiliki arti dan peran yang significant, kalau boleh saya menyebutnya: One for all  karena dengan terdapatnya logo halal maka secara automatically memberikan informasi bahwa produk tersebut memiliki standart mutu yang qualified and very suggested to use it! Dan karena misi yang dikibarkan oleh Wardah salah satunya adalah memasyarakatkan kosmetik halal sehingga tercipta sebuah euforia halal Is My Life, hal ini akan lebih cepat terealisasi dengan memperlebar mata rantai distribusi produk-produk kosmetik Wardah dengan strategi pemasaran yang lebih bisa menjangkau segenap lapisan masyarakat. 

Pengalaman saya pribadi yang tinggal di daerah [tepatnya berdomisili di Banyuwangi], untuk pemakaian pelembab bibir yang lebih cepat habis karena dalam sehari saya perlu beberapa kali melapisi bibir saya dengan pelembab akibat seringnya berada di ruangan berAC sehingga bibir sering terasa kering. Dan beberapa kali saya mengalami kesulitan untuk mendapatkan pelembab bibir Wardah ini karena tidak banyak out let kosmetik yang menjual produk wardah. Sedangkan di swalayan yang sudah saya ketahui menjual produk wardah, stocknya pun tidak selalu tersedia. Jadi akan lebih cepat meluas trend pemakaian kosmetik halal wardah bilamana pemasaran dan mata rantai ditribusi produk-produk wardah bisa diperlebar jangkauannya.

Ingin terlihat cantik alami secara lahir dan bathin, tapi tidak mau memakai kosmetik yang melanggar ajaran Islam? Kosmetik halal adalah jawaban bagi wanita Islam yang ingin tampil cantik secara alami dengan tidak melanggar ajaran agama. Wardah merupakan pioneer kosmetik yang berlabel halal di Indonesia memiliki tingkat keperdulian yang tinggi untuk mendukung setiap wanita menjadi cantik secara alami dan memenuhi nilai syariat Islam. PT. Paragon Technology and Innovation yang merilis brand Wardah setidaknya telah memproduksi kosmetik baik perawatan rambut maupun kulit berjumlah 200 macam dan telah mendapat sertifikasi halal dari lembaga MUI. Sebuah terobosan yang berani untuk memberikan logo halal merupakan bukti nyata bahwa kosmetik Wardah terjamin tidak terkontaminasi oleh hal-hal yang haram, aman untuk kesehatan dan secara linear mensupport kecantikan diri yang alami yaitu dengan memiliki kulit yang terawat, sehat, segar, elastis dan tidak cepat keriput.

Rahasia memiliki kecantikan yang mengagumkan adalah selalu siap untuk mengambil setiap kesempatan dan tantangan yang datang. Cantik itu meliputi pikiran, kemauan dan semangat yang pantang menyerah dengan senantiasa memiliki pola pikir yang up to date dan sanggup untuk up grade capability diri karena setiap orang memiliki kecantikannya masing-masing, hanya saja tidak semua orang mau mengeksplorasi secara optimal dan berkelanjutan.



Postingan Cantik alami dengan Kosmetik Halal ini diikutsertakan lomba Blog 
di BLOGdetik bekerja sama dengan LPPOM MUI dalam rangka memasyarakatkan 
HALAL Is My Life dengan menggandeng WARDAH sebagai pioneer kosmetik 
yang bersertifikat  halal pertama kali di Indonesia.




References:
  1. Al Qur'an.
  2. www.halalmui.org
  3. www.wardahbeauty.com
  4. www.blogdetik.com

Bell's Palsy

Moment Idhul fitri yang dinanti-nanti penuh suka cita, menuai kebersamaan dengan segenap keluarga yang sehari-hari terpisah kerana menti jalan takdirnya masing-masing. Libur lebaran beberapa hari untuk mengulang euforia dikala kebersamaan masih melingkari setiap hela nafas kita. One of the special great things saat momentum lebaran adalah bisa menikmati tiap alunan detik bersama orang-orang yang sbeelum-sebelumnya menjalani waktu bersama, tumbuh bersama, bermain bersama dan sesekali bertengkar untuk kemudian akur lagi main di sungai, menggembala, mencari rumput atau main layang dan sekian memory yang terlipat dalam lembaran waktu yang sudah menepi. Dan Bismilllahirrahmaanirrahiim  meski lebaran tahun ini tidak selengkap tahun kemarin, karena alasan yang confidential sehingga 3 kakak saya harus men-delay mudiknya di luar Idhul fitri.   Meski demikian tetap lebaran yang indah dan semarak, terlebih lagi raya masih punya orang tua yang lengkap. Rasa syukur dan harap semoga kedua orang tua saya diberikan panjang umur dan kesehatan untuk bertemu banyak Ramadhan lagi bersama-sama anak –anak beserta cucu-cucunya.

Aroma lebaran rasanya masih pekat, ketupat lebaran pun belum dibikin di rumah saat kemarin sore saya pamitan untuk kembali mencari sesuap nasi dan sebakul berlian. Yang membuat semakin terasa berat untuk bernagkat adalah karena kondisi Bapak yang belum pulih. Ceritanya setelah acara sungkeman, menjelang tengah hari Andri [salah satu cucu] melihat keanehan diwajah Mbah kakungnya yaitu bagian kiri wajahnya mengalami asimetris mirip orang terkena stroke [wajahnya jadi menceng]. Awalnya Bapak saya hanya mengeluhkan sakit pada rahang bawah sebelah kiri yang dikiranya karena giginya yg tinggal beberapa buah sedang sakit gigi. Karena hari H lebaran dan memang lokasi di desa, sehingga yang siaga ya Puskesmas. Akhirnya di bawa ke RS di Babat dan dari hasil diagnosa [sementara] kata dokter Bapak saya terkena Bell’s Palsy atau  idiopathic facial paralysis dan untuk pemeriksaan serta perawatan lebih lanjut minggu depan dengan dokter syaraf. Sangat jelas saya tidak tahu tentang jenis penyakit Bell pesly, bukan hanya karena awam dengan ilmu kedokteran tapi  ini juga kali pertama saya mendengar nama penyakit tersebut.

Pinjam gambar dari SINI
Dari hasil gugling, saya memperoleh informasi tentang apa, kenapa dan bagaimana Bell’s Palsy, berikut ini saya copas dari wikipedia:
“Bell's palsy adalah nama penyakit yang menyerang saraf wajah hingga menyebabkan kelumpuhan otot pada salah satu sisi wajah. Terjadi disfungsi syaraf VII (syaraf fascialis). Berbeda dengan stroke, kelumpuhan pada sisi wajah ditandai dengan kesulitan: menggerakkan sebagian otot wajah, seperti mata tidak bisa menutup, tidak bisa meniup, dsb. Beberapa ahli menyatakan penyebab Bell's Palsy berupa virus herpes yang membuat syaraf menjadi bengkak akibat infeksi. Metode pengobatan berupa obat-obatan jenissteroid dapat mengurangi pembengkakan. Kata Bell's Palsy diambil dari nama seorang dokter dari abad 19, Sir Charles Bell, orang pertama yang menjelaskan kondisi ini dan menghubungkan dengan kelainan pada sarah wajah". 
Bell’s Palsy bisa menyerang semua usia dan semua jenis kelamin, dimana penyebab pasti serangan Bells Palsy tidak diketahui secara pasti. Dugaan sementara Bells Palsy disebabkan oleh virus, ada juga kajian menyatakan jika Bells Palsy bisa dipicu oleh trauma (stres fisik), dan faktor lingkungan (udara dingin). Sudah banyak yang pernah mengalaminya, catatan medis menunjukkan rata-rata 40.000 orang Amerika terkena Bell’s Pasly. Perempuan hamil berpotensi 3 x lipat dibandingkan wanita yang tidak hamil. Penderita diabetes, perokok, pengguna obat-obatan sejenis stereoid berpeluang 4x lebih mudah terserang Bell’s Palsy dan. Sebagian yang mengalami penyakit ini bisa sembuh total, dan sebagian tidak bisa alias wajahnya tetap menceng. Untuk informasi lebih detail, silahan di gugling artikel terkait dengan Bell’s Palsy ini.

Saat saya berangkat, kondisi Bapak memang belum pulih total tapi Alhamdulillah sudah bisa ditinggal balik anak-anaknya. Besok anak bungsunya [adik saya] yang akan melanjutkan tugas berikutnya, yaitu membawa ke dokter syaraf. Saat Bapak di bawa ke RS, tiba-tiba adik saya telpon Andri [maklum dia sedang di rumah mertuanya jadi tidak bisa merayakan lebaran bersamaan juga]. Makanya Andri pas sampai rumah langsung tanya apa saya ngabari Si Om-nya? Karena saat itu memang belum ada yang ngabari saudara-saudara yang gak bisa mudik lebaran, masih menunggu hasil dari RS. Mungkin itulah vibrasi hubungan anak dan orang tua , saat ada kondisi yang tidak stabil akan ada gelombang ajaib yang mengabarkan pada anak/orang tua. Oh ya, karena Bapak saya itu tipe orang yang ‘cerewet’ saat sakit, maka kemarin saya wanti-wanti: “ njenengan kedah siyam ngomong Pak, menawi kathah ngomong gerahipun lami sarase ~ Bapak harus ‘puasa’ bicara, kalau tetap banyak bicara maka sakitnya bisa lama baru sembuh” Dan selain itu, saat ke dokter pun minta dengan sangat agar memberi ‘ultimatum’ pada Bapak untuk prei merokok dan minum kopi. Adat orang tua kan susah kalau dibilangin oleh anaknya, jadi harus minta bantuan the expert-nya: Dokter!

Semoga kita lebih aware terhadap kesehatan diri, karena bahkan hal-hal yang kita anggap ‘biasa’ pun bisa menjadi penyebab ketidakstabilan bagi kesehatan diri kita. Maaf, saya TIDAK bisa menampilkan kondisi wajah Bapak yang saat ini menceng dan mohon doanya agar kondisi Bapak bisa segera membaik.



Sumber :
http://www.ihnigmuh.com/ [untuk pinjam gambarnya]





Gelombang Mozaik

DanBismillahirrahmaanirrahiim, Puisi Gelombang Mozaik ini sebenarnya rikues dari Jeng Una dan sengaja saya posting di blog ini untuk mengumpulkannya agar terdokumentasi dengan rapi...cieee..cari-cari alasan deh. Dan sekaligus melengkapi puisi ini, saya ambilkan foto-foto how beautiful the sky hasil capture-nya Una.

Gelombang Mozaik

Pada bentang buana yang menghampar
Lukisan langit yang membuncahkan kagumku
Berdispersi dalam pancaran serat-serat biru
Koheren
Menggelombang

Pinjam dari Una
Lalu udara yang hinggap, mengusap keningku penuh mesra
Sedetik mengacak rambutku bergerai masai
Dan awan-awan yang bermozaik-mozaik
Membersihkan jeda yang memasung pesona nirwana
Mendayu-dayu keterpesonaanku menatapi angkasa

Jika sejuk pagi dan hangat mentari mengizinkan embun mengering
Menghampirkan sesore yang menyingkap hangat siang
Menampakkan rerupa angkasa
Bersama tarian kosmis yang menggelombang
Memenuhi atmosfir senja dan kosmosnya

Sinergi ayat-ayatNYA slalu mendulang takjub
Mengetat lekat
Menyentuh pixel-pixel hati
Maka biarlah hidup sewajarnya mengalir
Dan aku pun bersenyawa dalam alur sejarahku