WHAT'S NEW?
Loading...

Ponsel Pintar Untuk Perempuan Indonesia: Harga Ekonomis ~ Nilai Maksimalis

 “Perempuan itu kudu pinter, setuju kan ya? Gak cuma mesti pinter-pinter meluangkan waktu buat ngurus ini itu di rumah tapi juga buat kerjaan dan hobi misalnya. Walau jadi ibu rumah tangga ya tetap harus bisa pinter menggali informasi, biar selalu jadi andalan keluarga apalagi anak-anak....”paragraf yang sangat provokatif dan sekaligus cukup ‘menyindir’ bagi siapa saja especially “perempuan” yang masih ‘belum akrab’ dengan perkembangan teknologi IT yang sudah membawa kita pada era digital. Dan Bismillahirrahmaanirrahiim  mengambil frase kalimat [dengan garis bawah] dari preambule kontes yang diadakan oleh EmakBlogger memang idealnya perempuan Indonesia [harus] bisa mengambil MANFAAT dari perkembangan product IT yang sudah membumi dan memasyarakat dalam rangka up grade dan up to date diri menuju sosok perempuan pintar yang selalu jadi andalan keluarga dan anak-anak. Jika direview betapa peran penting kedirian perempuan antara lain:
  1. Perempuan memegang perang confidential dalam keberlangsungan lahirnya generasi-generasi penerus bangsa yang tangguh dan multi talenta. Tentu sangat beralasan jika ada ungkapan “ maju dan mundurnya suatu bangsa terletak pada perempuan”  mengingat fitrah keibuan dan hubungan emosional anak  pada umumnya dekat dengan sang Ibu [tanpa maksud mengurangi peran penting sosok Ayah].
  2. Disamping seorang laki-laki [pemimpin] yang sukses ada peran besar istri [perempuan].
  3. Memilih berkarir full di rumah maupun bekerja di luar rumah, semua perempuan tentu ingin eksistensinya di akui oleh lingkungan sosialnya.
Dan untuk bisa menempatkan diri pada posisi ‘prestisius’ tersebut, maka setiap perempuan Indonesia perlu memiliki mind set ‘ Keep up to date and Be Develope” karena menutup diri dari perkembangan informasi [yang identik dengan jalur internet] justru akan menjauhkan eksistensi diri dari dinamika peradaban sehingga akan menjadi makhluk yang tergerus oleh evolusi alam: menjadi sosok yang kuper dan tidak up to date. Jika kondisi ini yang terjadi pada seorang perempuan, lantas siapa yang akan mendampingi, mendidik [BUKAN mendikte] dan menemani anak-anaknya menyongsong era milenium yang lekat erat dengan efect global yang complicated sehingga PERLU filter dari orang tua, khususnya ibu? Tidak bisa dibendung jika kepak sayap internet semakin luas menjelajah berbagai aspek kehidupan dan seyogyanya perempuan harus bisa mengikuti perkembangan ini agar bisa menempati peran strategisnya secara optimal. Dengan bersinergis terhadap perkembangan IT  sejatinya justru akan banyak kesempatan yang bisa diambil dengan meringkas ruang dan waktu sehingga tidak mengurangi porsi untuk keluarga dan kegiatan lainnya. Internet sebagai produk teknologi yang merupakan hasil kreatifitas akal dan tuntutan kebutuhan manusia seiring perkembangan jaman dengan potensinya yang memiliki kelebihan tinfkat kecepatan dan penggunaanya yang bersifat flexible, maka sangat membuka kesempatan bagi perempuan untuk ikut aktif men’download’ point plus yang terdapat dalam media cyber ini untuk meningkatkan capability diri sehingga mampu menjelma menjadi sosok pendamping yang bisa menjadi katalisator keberhasilan suami. Dan untuk itu semua diperlukan tool yang mampu memenuhi aspek-aspek tersebut yaitu Ponsel Pintar Untuk Perempuan Indonesia: Harga Ekonomis ~ Nilai Maksimalis
 
Meningkatnya mobilitas masyarakat yang membawa dalam pusaran dan trend life style yang rush hour dewasa ini, maka sudah menjadi tuntutan kebutuhan [BUKAN prestige] bagi sebagian masyarakat termasuk para perempuan untuk bisa ‘berada’ dimana-mana dalam waktu yang bersamaan sehingga kehadiran smart phone atau ponsel pintar saat ini merupakan barang primer yang tak terelakkan. Dalam rangka untuk memenuhi keperluan berkomunikasi standart: telpon dan sms sehingga connected dengan anak-anak, suami dan semua komunitas sosial tanpa kendala ruang, jarak dan waktu. Tentu juga untuk coverage pekerjaan: pengiriman report, evaluasi, monitoring dan aktfitas-aktifitas lainnya harus tetap dijalankan diantara kegiatan yang sedang berlangsung seperti: transfer uang, pembayaran listrik, telpon, PDAM, Koran, top up pulsa, dan lain-lain.

Untuk semua kebutuhan jalur On line tersebut, maka diluncurkannya Paket bundling Indosat Mobile dan Nokia berisi Kartu Indosat Mobile dan handset Nokia, untuk para Wanita Indonesia dengan benefit GRATIS paket Hebat Keluarga Selama 30 Hari dan Layanan Info Wanita merupakan program yang on the right time and track karena tentunya semua orang [apalagi perempuan yang sifat management financialnya berbasis asas ekonomis] tetap concern untuk membuat priority pada aspek Ekonomis. Saya sendiri sebelumya sudah menggunakan beberapa paket Indosat yang terbukti hemat/ekonomis dalam rangka memenuhi keperluan mengakses internet [untuk Keep up to date and Be Develope], antara lain: saya memilih IM2 Paket Broom untuk keperluan  browser/internetan dan Paket Internet untuk ponsel [sehingga saat mobile tidak ada masalah jika perlu mengakses jalur internet], sedangkan untuk jalur komunikasi saya memilih paket sms yang bisa untuk semua operator dengan charge per sms-nya Rp. 15,- dan  paket  seru yang bisa dapat free talk 300 menit [jam 00-24 setelah penggunaan telpon Rp. 1000,-] untuk sesama operator Indosat [yang sangat memperlancar jalur komunikasi saya dengan keluarga dan relasi]. Dan semua itu tetap HEMAT SERU!

Dan menurut saya program partnership dalam bentuk paket bundling Indosat Mobile dan Nokia ini merupakan penawaran yang cakupan hematnya lebih berkelipatan dari paket-paket yang sudah ada di Indosat sebelumya, seberapa detail EKONOMISnya bisa dilihat berikut ini:


Selain paket bundling Indosat mobile dan Nokia tersebut, Indosat Mobile kembali menghadirkan paket terbaru yaitu Paket Hebat Keluarga, paket komunikasi hemat sepanjang hari terutama saat berkomunikasi dengan keluarga dan sahabat jam 00.00 - 17.00.

Dengan detail paket hebat keluarga yang ditawarkan di atas, masih adakah perempuan Indonesia yang dilanda galau keraguan dan under estimate tentang kendala dan mahalnya biaya untuk bisa keep up to date and be develope sehingga eksistensinya semakin solid sebagai perempuan yang pintar menggali informasi, biar selalu jadi andalan suami dan anak-anak.?  Silahkan buktikan dengan mengunjungi dan jatuhkan pilihan pada Paket bundling Indosat Mobile dan Nokia berisi Kartu Indosat Mobile dan handset Nokia, untuk para Wanita Indonesia dengan benefit GRATIS paket Hebat Keluarga Selama 30 Hari dan Layanan Info Wanita


Paket hemat nan ekonomis yang ditawarkan Indosat tersebut semakin terasa manfaatnya kian MAKSIMALIS karena combine dengan Nokia Asha 202 yang di desain sangat Ergonomis dan fitur yang eligible sebagai smart phone bagi perempuan Indonesia. Inovasi yang progressive serta comprehensive yang dilakukan oleh Nokia kini menghadirkan sebuah ponsel cantik dan elegan Nokia Asha 202 yang high taste fashion dengan fitur-fiturnya yang user friendly berbasis teknologi canggih sehingga sangat tepat untuk disebut sebagai Smart Phone. Beberapa fitur unggulannya antara lain: dual simcard/on GSM, touch screen 2,4” dengan berat hanya 90 gram, keypad, kamera resolusi 2 MP, aplikasi konektifitas yang handal, stand by untuk: MP3 + 25 jam, Video 6jam dan berbagai fitur unggulan lainnya yang menjadikan Nokia Asha 202 ini memenuhi kriteria untuk menjadi salah satu Smart Phone.

Penawaran program partnership dalam bentuk paket bundling Indosat Mobile dan Nokia ini merepresentasikan sebuah Ponsel Pintar untuk Perempuan Indnesia: harga ekonomis ~ nilai maksimalis adalah salah satu tool untuk menjadi sosok Ibu andalan bagi anak-anaknya, capable meng-up grade skill dan pengetahuan agar jadi istri yang hebat dan tentunya tetap bisa eksis dengan kediriannya sebagai Perempuan Indonesia yang aktif dan dinamis seiring perkembangan teknologi.


People often think that they’re being demotivated by their situations.
The Fact is they’re just being disconnected from their dreams.”



Tulisan ini diikutsertakan dalam Kontes “Ponsel Pintar untuk Perempuan Indonesia yang diselenggarakan oleh EmakBlogger

Tempe: Makanan Tradisional [yang] GO International

Sejak kapankah Anda mengenal makanan Tempe? Saya sendiri kenal Tempe sejak saya mulai bisa mengingat peristiwa-peristiwa dalam hidup, termasuk sang penjualnya yang sampai sekarang masih setia berjualan keliling tempe dari rumah ke rumah dengan berjalan kaki. Usianya saya taksir seiktar 70an tahun dan bagi keluarga saya, beliau salah satu sosok yang punya peran dalam keberlangsungan adanya menu tempe dalam makan sehari-hari di rumah. Namanya Mariyam dan saya biasa memanggilnya Mbokde Yam ~ disingkat lagi jadi Dhe Yam, dengan kebaikan hatinya tak keberatan untuk ngutangi dulu pada semua pelangganya dan baru dibayar saat sudah punya uang. Dan ketika beberapa waktu lalu saya bertemu lagi dengan beliau, Bismillahirrahmaanirrahiim   dapatlah ide untuk membuat tulisan tentang Tempe: Makanan Tradisional [yang] GO International sebagai salah satu makanan yang PALING INDONESIA.
 “ Yang ngajari Dhe Yam bikin tempe siapa?”
Oalaahh Nduk, membuat tempe itu gampang. Siapa pun bisa kok bikin tempe...itu kan ilmu turun temurun ” mendengar jawaban polos itu merupakan salah satu bukti tak tertulis jika tempe sudah membumi di Nusantara sejak jaman nenek moyang kita dahulu.
 “ Berarti belajar bikin tempe-nya dari Emak atau Embahnya Dhe Yam ya?” sepertinya ini  pertanyaan konyol karena tentu saja yang dimaksud turun temurun oleh Dhe Yam tidak harus ada hubungan darah/keluarga dan jawaban Dhe Yam adalah dia belajarnya hanya dengan bertanya ke penjual tempe terus mencoba mempraktekkannya. Dan tak perlu waktu lama sampai beliau mahir membuat tempe untuk dijual agar bisa membantu suaminya mencari nafkah.
Kalau membuat tempe itu Yang harus diperhatikan jangan sampai kena garam, Nduk. Sedikit saja kecipratan garam bisa rusak semua...gak jadi tempe, kedelainya tetep utuh semua alias tempe urung jadi...” demikian jelas Dhe Yam.
Tempe juga bisa dibuat dari biji Lamtoro lho, Nduk ?” demikian ujar Dhe Yam saat saya bertanya-tanya tentang Tempe buatannya. “Tapi rasanya agak kecut..beda banget dengan tempe yang dibuat dari kedelai “.
Apa bener wanita yang lagi haid gak boleh membuat tempe, Dhe?”
Dhe Yam tertawa mendengar pertanyaan ini “ Lha itu kan sholat sama puasa yang gak boleh untuk wanita sedang mens tho? Kalau bikin tempe tidak ada larangan...yang penting tetap jaga kebersihan diri seperti biasa”
Dhe Yam pernah gak ngalami bikin tempe urung jadi? Kira-kira penyebabnya apa jika tempe  gak jadi gitu?”
Ya tentu pernah tho Nduk. Pengalaman Dhe Yam kalau tempe gak jadi itu jika sedang uring-uringan, perasaan kesal atau marah. Awal-awalnya juga gak tahu, tapi kemudian diingat-ingat setiap ngalami bikin tempe setelah semalam di eram-kan kedelainya tetap utuh ternyata saat Dhe Yam lagi marahan sama suami Dhe Yam...”

Percakapan semi interview tentang tempe yang notabene dikenal sebagai makanan tradisional dan sempat mendapat ‘label’ sebagai lauknya orang pinggiran ~ ekonomi lemah karena harganya yang merakyat. Bahkan untuk komunitas anak kost terkenal dengan istilah “ Paket SETEREO ~ sego tempe separo. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan aneka penelitian food product yang memiliki nilai gizi tinggi, tempe muncul menjadi salah satu jenis makanan yang masuk daftar papan atas sebagai produk makanan asli Indonesia yang bernilai gizi tinggi sehingga disebut juga daging analog. Sekitar satu dasawarsa lalu saat berkesempatan berkunjung ke LIPI, untuk pertama kalinya saya tahu kalau tempe sudah dikembangkan sebagai food product bernilai ekonomis tinggi sehingga bisa diproses untuk skala industri. Dengan bermacam jenis olahan tempe yang dikalengkan melalui aplikasi teknologi pengolahan makanan yang didesain sedemikian rupa sehingga bisa mempertahankan nilai gizi tempe yang high quality dengan kandungan karbohidrat, lemak, protein, serat, vitamin, enzim, daidzein, genisten serta komponen anti bakteri yang bermanfaat bagi kesehatan, tentunya saka dengan meminimalisir sisi perishable tempe. Saat itu saya mendapat 'souvenir' tester produk tempe kaleng yang berbumbu bace, gule dan kare. 

Gambar dari sini
Konflik HKI ~ Hak Kekayaan Intelektual juga terjadi pada tempe yang diklaim sebagai salah satu makanan tradisional [asli] Jepang. Dan benarkah demikian? Untuk menjawab klaim tersebut, perlu untuk melakukan trace sejarah ke masa lalu, menelusuri jejak makanan yang terbuat dari proses fermentasi kedelai dengan jamur Rhizopus Oligosporus tersebut secara fakta historis sudah familiar menjadi salah satu jenis lauk-pauk dalam pola makan masyarakat Indonesia sejak tahun 1700-an Masehi. Diperkirakan tempe sudah menjadi makanan masyarakat Jawa sejak sebelum Mataram diperintah oleh sultan Agung. Kata ‘TEMPE’ berasal bahasa Jawa Kuno yaitu pada masa itu terdapat makanan berwarna putih terbuat dari tepung sagu yang disebut Tumpi. Dan tempe segar yang juga berwarna putih terlihat memiliki kesamaan dengan makanan tersebut.

Dalam pustaka Serat Sri Tanjung [ abad XII-XII] pada bagian ceita Dewi Sri Tanjung, disitu terselip kata kedelai yang ditulis dengan kadhele, Salah satu baitnya menggambarkan jenis tanaman di Sidapaksa yang mengandung kata kadhele, kacang wilis dan kacang luhur. Pada Serat Centini atau disebut juga Suluk Tambangraras, kata kedelai terdapat pada jilid II, sedangkan kata Tempe terdapat dalam jilid III yang menyebutkan adanya nama hidangan jae santen tempe [sejenis masakan tempe dengan santan] dan kadhele tempe srundhengan. Selain itu, terdapat rujukan mengenai tempe dari tahun 1875 dalam kamus bahasa Jawa-Belanda. Terdapat sumber lain mengatakan bahwa pembuatan tempe diawali semasa era Tanam Paksa di Jawa dimana pada saat itu, masyarakat terpaksa menggunakan hasil pekarangan seperti singkong, ubi dan kedelai sebagai sumber pangan. 

Ada pula pedapat yang mengatakan bahwa tempe mungkin diperkenalkan oleh orang-orang Tionghoa yang memproduksi koji yaitu kedelai yang difermentasikan menggunakan kapang Aspergillus yang kemudian di modifikasi sesuai iklim di Jawa menggunakan Rhizopus untuk membuat makanan yang disebut Tempe. Teknik pembuatan tempe menyebar ke seluruh Indonesia sejalan dengan masyarakat Jawa yang bermigrasi ke seluruh wilayah tanah air. Sejumlah penelitian yang diterbitkan pada tahun 1940-1960an menyimpulkan bahwa banyak tahanan perang dunia II berhasil selamat karena Tempe. Menurut Onghokman [sejarawan dan cendekiawan Indonesia], tempe yang kaya protein telah menyelamatkan kesehatan penduduk Indonesia yang padat dan berpenghasilan rendah.

Perjalanan Tempe: Makanan Tradisional [yang] GO International kemudian menyebar ke Eropa melalui orang-orang Belanda. Pada tahun 1895, Prinsen Geerlings [ahli kimia dan mikribiologi dari Belanda] melakukan idetifikasi pertama terhadap kapang tempe. Perusahaan-perusahaan tempe yang pertama di Eropa pun dimulai di Belanda oleh para imigran dari Indonesia. Melalui Belanda ini, tempe mulai populer di Eropa sejak tahun 1946. Sedangkan di Amerika Serikat, pertama kali tempe populer di sana pada tahun 1958 oleh Yap Bwee Hwa, orang Indonesia yang pertama kali melakukan penelitian ilmiah tentang tempe. Awal tahun 1960, pakar mikrobiologi dan pakar dari USDA, Northern Regional Research Center di Peoria, Illinoi, melakukan penelitian tentang tempe yang melibatkan katalis dari Indonesia Ko Swan Djien. Pada tahun 1964 Ko Swan Djien menuliskan pemikirannya bahwa saatnya akan tiba bangsa Indoesia bangga dengan tempe, seperti halnya Jepang dengan sake-nya dan Perancis dengan anggur-nya.

Sedangkan di Jepang, Tempe mulai diteliti sejak tahun 1926 tetapi baru mulai popularitasnya naik sekitar tahun 1983, yang disebabkan karena masyarakat Amerika dan Eropa telah lebih dulu tertarik pada tempe. Pada saat itu di Jepang ada tiga perusahaan penghasil tempe yang tergolong terbesar di dunia. Orang yang memasyarakatkan tempe di Jepang adalah Dr. Masahiro Nakano. Tempe pun mengalami kemajuan dan perkembangan yang pesat, pada tahun 1984 sudah tercatat 18 perusahaan di Eropa, 53 di Amerika, dan 8 di Jepang. Tempe juga menyebar di beberapa negara lain seperti RRC, India, India, Taiwan, Sri Lanka, Kanada, Australia, Amerika Latin dan Afrika.

SNI 3144:2009 [persyatan mutu tempe]
Terlepas dari ‘sengketa’ HKI dengan Jepang, kini tempe adalah makanan yang diakui merupakan ASLI dari Indonesia yang telah Go International. Tempe semakin naik daun popularitasnya seiring dengan perkembangan IPTEK dan dunia informasi yang mempublikasikan tentang keunggulan nilai gizinya, terlebih trend pola makan sehat dan lahirnya komunitas vegetarian di seluruh dunia yang banyak menggunakan tempe sebagai pengganti daging karena hasil riset membuktikan bahwa    sepotong tempe goreng yang beratnya 50 gram nilai gizinya setara dengan 200 gram nasi serta terdapatnya Vitamin yang larut lemak [ A, D, E dan K] dan vitamin larut air [vitamin B kompleks]. Tempe juga merupakan sumber alami vitamin B yang potensial [ 1,5 – 6,3 mikrogram per 100 gram tempe kering merupakan jumlah yang mencukupi kebutuhan vitamin B12 per hari]. Selain itu tempe juga mengandung mineral makro dan mikro dalam jumlah yang cukup yaitu zat besi 9,39%, tembaga 2,87% dan zink 8,05%.

Jadi tidak mengherankan kalau berbagai penelitian dilakukan di sejumlah negara maju dan Indonesia juga sekarang berusaha mengembangkan galur [strain] unggul Rhizopus untuk menghasilkan tempe yang lebih cepat dan berkualitas sehingga mampu meningkatkan produktifitas serta kandungan gizi tempe. Fakta sejarah dan kenyataan empiris yang memperkuat orisinilitas tempe [setidaknya saat ini tercatat 81.000 usaha pembuatan tempe dengan produksi 2,4 juta ton per tahun] sebagai makanan asli Indonesia, juga bukti secara formal dari 20 negara penghasil tempe di dunia tapi usulan standar tempe milik Indonesia yang diterima menjadi new work item saat CAC [Codex Allimentarius Commission] merupakan keberhasilan untuk menjadikan tempe sebagai industri penting di tanah air.

Lahirnya SNI 3144:2009 yang dilanjutkan dengan pengajuan melalui CCASIA yang lolos proses critical review pada sidang  sebagai Standar Regional melalui Codex Executive Committee [CCEXEC] ke-65 di Jenewa pada Juli 2011, sehingga direkomendasikan untuk diadopsi menjadi new work item saat Codex Allimentarius Commission. Dan finally tempe berhasil disahkan sebagai new work item di CAC ke -34 pada Juli 2011. Saat ini standar tempe yang diusulkan Indonesia masih dalam status New Work of Standard Regional Codex [note: Codex merupakan standar internasional di bidang pangan] karena perdagangan tempe umumnya masih lingkup Asia dan belum menjadi komoditi Internasional, sehingga standar tempe diusulkan menjadi standar Codex untuk regional Asia dan diharapkan pada 2013 nanti standar tempe dapat disahkan di CAC.

Melalui standar yang disahkan CAC, tempe sebagai makanan asli dan khas Indonesia akan semakin dikenal dunia. Jika Indonesia mampu mengembangkan standar ini ke tingkat Internasional dengan memproduksi tempe bermutu tinggi dan tahan lama, maka Indonesia mempunyai kesempatan besar untuk mengembangkan indistri tempe modern di seluruh belahan dunia. Standar tempe untuk bisa disetujui menjadi new work of standard Regional Codex membutuhkan dukungan negara-negara anggota CODEX di wilayah Asia, maka Standar Tempe Indonesia untuk bisa meraih sukses di tingkat Internasional pastinya dibutuhkan dukungan lebih banyak negara-negara dari belahan benua lainnya. Perjuangan mengusulkan standar tempe ke tingkat Internasional tidak akan bisa berhasil tanpa dukungan masyarakat Indonesia khususnya, karena perjuangan untuk mendapatkan pengesahan di level Regional saja membutuhkan perjuangan yang sangat berat. Tentunya kita tidak ingin status HKI tempe ‘lepas’ dari Indonesia dan Tempe sebagai makanan asli dan khas Indonesia seyogyanya semakin memasyarakat di Indonesia dan Internasional dengan didukung semua lapisan masyarakat. Sudah saatnya Tempe: Makanan Tradisional [yang] GO International dan bangsa Indonesia bangga dengan tempe sebagai makanan asli milik Indonesia yang merakyat, enak, kaya gizi dan menyehatkan !



Tulisan ini diikutkan lomba blog Paling Indonesia yang diselenggarakan oleh  Komunitas Blogger Makassar, AngingMammiri.org bekerjasama dengan Telkomsel area SUMALPUA [Sulawesi - Maluku - Papua] 
dalam rangka ulang tahun ke-17 Telkomsel


References:
  1. www.bsn.go.id
  2. www.lipi.go.id
  3. The Book of Tempeh [2001]

When I broke Up

“ Pernah jatuh cinta? Pernah patah hati dong?” frase yang tertulis pada sebuah cover Antologi Write True Story: When I broke up. Patah hati bukan akhir dari segalanya. Masih banyak hal laing yang lebih berarti ketimbang bunuh diri. Setragis apapun ksah cinta, tetap masih banyak yang menyikapinya dengan positif, bahkan mampu bangkit dengan visioner yang lebih baik. Dan...tentu saja jangan mengira saya akan menulis tentang review buku tersebut atau sejenisnya. Yups, secara tak terduga tadi siang datang 1 paket tertera untuk nama saya di kantor. Sempat bertanya-tanya, kok ada paket dari penerbit Leutikaprio? Ahaaa....langsung deh ingat jika akhir tahun kemarin saya termasuk dalam daftar pemenang di event “When I broke up” di sini.  Dan Bismillahirrahmaanirrahiim  ketika saya buka, so surprised karena ternyata isinya tak hanya buku Antologi tersebut. Ada piagam Penghargaan [tertanggal 12 Juni 2012],  4 buku masing-masing dengan judul: When I broke Up, 8 Hari di negeri Paman HO, DD Elegi seorang penyanyi dangdut, Mengejar Anggun dan 1 eksemplar majalah e-magz about writting serta 1 voucher [nominal 200 ribu untuk paket penerbitan]

Nah, dari semua buku dan majalah tersebut belum ada yang saya baca tapi sedikit informasi yang bisa saya share [ tepatnya promosi! ] tentunya tentang Antologi yang di dalamnya ada satu tulisan saya dengan judul My Re-engineering When I broke Up yaitu:
Judul                     : When I Broke Up
Penulis                 : Ririe Khayan, Jacob Julian, Langit Senja, Arinana, Antie Wijaya, dkk
Penerbit              : LeutiKaprio
ISBN                      : ISBN: 978-602-225-409-6
Tebal                    : 232, BW : 232, Warna : 0          
Cetakan I             : Mei 2012
Harga                    : 47.000 [ Belum Ongkir ]
Untuk informasi lebih detail bisa langsung kunjungi LeutiKaprio di sini.  Berikut ini sebagian tulisan saya  dan sengaja saya tampilkan sebagian paragrafnya secara tidak beraturan dan untuk [semoga] membuat penasaran. Then here we go.....

”…. kenapa harus berduka berlarut-larut sedangkan si dia tentunya sudah berbahagia. Kenapa masih menyelimuti hati dengan rasa sakit sementara si dia sudah menyulam tawa ceria? Sepenting itukah orang yang sudah dengan sengaja mencampakkanmu sementara masih kau genggam segala kenangannya seolah tak akan ada lagi yang lebih berharga…..” Beberapa kalimat yang sesekali aku selipkan di antara obrolan kami, hingga kemudian dia bisa bangkit lagi.
By the time, banyak hal dalam dirinya yang membuatku bisa merasa comfort, secure, safe, dibutuhkan, diinginkan  dan dihargai serta kami bisa klik dalam pola pikir. Maka tak sulit buatku untuk mulai membuka hati menerima dirinya . Di saat aku sudah sedemikian yakin untuk bisa bersamanya, di saat itulah dia menyatakan mundur dengan alasan yang tak terjelaskan. Karena apapun alasannya, bagiku itu hanyalah alasan yang menunjukkan jika dia tak seserius yang aku perkirakan. Karena jika dia seserius sangkaanku, mestinya apapun halangan, masalah, rintangan tak akan menjadikannya untuk mundur.
Manakala hubungan (asmara)  berakhir, betapapun di kemas dengan penuh nuansa romantis ataupun merupakan hasil kesepakatan bersama untuk memilih jalan hidup sendiri-sendiri, tetap hal yang menyakitkan. Apalagi yang tiba-tiba gone just like dust in the wind?. Maka aku termasuk salah satu orang yang tetap merasakan bagaimana jejak luka, gores kecewa, gurat sedih, feeling blue menghantam telak relung hati dan mengubah suasana hari-hari jadi berselimut kabut.
Rasa kecewa, sakit dan ‘merasa’ dipermainkan, campur jadi satu dalam hatiku. Aku merasa jadi orang yang bodoh sedunia karena percaya dia seserius dan gentle yang aku kira.... “ dia berhasil membuatmu patah hati deh”, demikian ucap sahabat karibku. “ Mau sampai kapan kamu berkabung seperti itu ?”. Berkabung mungkin istilah yang berlebihan, tapi kenyataannya aku memang merasa terjatuh dari tebing yang sangat tinggi, sakiiit rasanya. Makanku jadi kacau dan hampir tiap hari aku menangis, menangisi akan sikap dia juga atas kenyataan bahwa aku sudah menyukainya sehingga merasa kehilangan sedemikian rupa.
Waktu adalah obat yang mujarab untuk menyembuhkan hati yang terluka, selebihnya adalah keinginan kita untuk bangkit dari keterpurukan. Setelah beberapa hari bermuram durja, menangisi kegagalan ta’arufku, aku paham satu hal ‘Kecewa dan sedih HANYA sebagian awal dari kegagalan karena selebihnya adalah pendewasaan diri dan tempaan hatiBenar pula, menasehati orang lain memang lebih mudah daripada menerapkannya sendiri. Aku belajar untuk menghadapi, merasakan, dan menerima rasa sakit tersebut, karena menghindarinya akan membutuhan jauh lebih banyak energy. Menangis memang bisa melepaskan sesak di dada namun tak akan bisa membuatnya kembali seberapapun banyak airmataku yang keluar. Karena itu aku di setiap menangis sekaligus aku mengatakan pada diri sendiri bahwa aku tak boleh larut dalam rasa kehilangan, patah hati atau apapun istilahnya.
Tak ada gunanya bertahan dalam kemarahan, kecewa, sakit hati atau penyesalan. Aku sudah berani mengambil resiko untuk jatuh cinta, maka saat mengalami kegagalan aku pun menempuh jalur re-engineering dalam cara berpikir dan sikap untuk mendapatkan kehidupanku kembali.....[the completely story available on the Antologi true story: When I Broke Up]


Buku yang berisi 30 karya penulis Pemenang event “ When I broke Up” LeutiKario ini menunjukkan bahwa patah hati BUKAN alasan untuk menenggelamkan diri dalam jurang kegalauan atau mematahkan asa kehidupan. Setidaknya 30 kisah dalam Antologi ini menjadi pembuktian bahwa sesungguhnya setiap orang bisa bangkit dari keterpurukannya, tak hanya soal waktu will help to heal tapi yang terpenting adalah KEMAUAN untuk segera bangkit, move on and Life must go on, guys!

Linearitas: Senang, puas dan bahagia

JIKA  marah, benci, sedih, rindu dan cinta hanyalah sebuah rasa yang tak memihak pada kebenaran atau kesalahan dimana rasa itu hanya satu yang mampu menyentuhnya yaitu hati…
Maka Bismillahirrahmaanirrahiim HATI  pulalah [yang mendapatkan aliran rasa tersebut dari otak yang telah ‘mengolah dan mensenyawakan’ dari berbagai hormon dengan chemistry reaction dalam beberapa tahapannya] yang menentukan terjadinya rasa senang, puas dan bahagia. Lantas kapankah terjadinya euforia senang, puas dan bahagia? Senang, puas dan bahagia bisa terjadi kapan saja, dimana pun dan dalam keadaan apa pun. Karena rasa-rasa itu adalah hak hati untuk memilihnya. Rasa senang tak harus terjadi karena situasi yang berawal baik-baik saja, unpredictable reasons yang tidak diharapkan dan kalau bisa dihindari maka tentu akan dihindari dengan suka cita. Akan tetapi, pada keberlangsungannya bisa saja pada saat momentnya running ternyata justru membuat kita senang. Pernahkah Anda mengalami yang demikian?

Saya pernah mengalaminya, salah satu peristiwanya adalah beberapa waktu lalu [ +2minggu lalu], harus berangkat ke Surabaya disaat yang belum lama jedanya dari long trip pekan sebelumnya dan terlebih pemberitahuannya mendadak, respon spontan saya adalah arrgghhhhh...maklum penat dan capek belum mengendur serta tempat tinggal masih kayak kapal pecah. Bukan itu saja, seharusnya yang berangkat bukan saya! Untuk acara 2 hari yang harus saya ikuti di Surabaya tersebut sebenarnya saya memilih untuk menginap di mess saja, toh hanya untuk tidur [malam] beberapa jam dan demi meminimalkan pengeluaran tenaga dan waktu [budget juga tentunya]. 
Figure 1
Al hasil, ternyata secara tak terduga ada satu kamar hotel yang di booking untuk asesor tidak terpakai karena si Bapak dari KAN harus take off secara mendadak di hari pertama. Karena saya sudah men’setting untuk menerima tugas ke Surabaya dan kemudian mendapatkan fasilitas menginap di hotel full service di suite room...tentu euforia senang yang saya rasakan dunk?

Bagaimana dengan rasa puas?
“Tingkat perasaan (perceive performance) dimana seseorang menyatakan hasil perbandingan atas kenyataan yang diterima dan yang diharapkan (expectation)”.
Untuk konteks di atas, tentu saja saya puas. Dan apakah puas harus bertitik awal dari rasa senang, mendapatkan sesuatu, karena memenangkan sebuah penghargaan or something else similar with that? Bagi saya pencapaian pada level puas TIDAK harus  selalu oleh kondisi-kondisi yang bersifat menggembirakan. Saat bisa membantu orang lain [apalagi jika orang tersebut memiliki hubungan emosional: ortu, saudara, keluarga, teman], meski mungkin menguras tenaga dan mendebit deposit hingga kandas, dengan mantap saya bisa bilang merasakan kePUASan tersendiri yang tak terlukiskan. Atau contoh yang akrab dengan event ini, ketika saya gagal/tidak menang dalam kompetiblog, from the bottom of my heart I do confess very satisfy! Karena jika sudah terbersit niat untuk berpartisipasi, berusaha maksimal untuk membuat [karya] yang terbaik, maka apapun hasilnya, saya merasa puas karena sudah terlibat dalam prosesi kompetisinya. Jadi tetap lebih memuaskan [tidak penasaran/menyesal] karena saya sudah berusaha meskipun hasilnya belum seperti yang diharapkan.
Figure. 2
“Do the best, Let GOD take the rest and no matter the result it will be the best..Even if I failed, I’m still the winner of my self”
Dan tentang bahagia? Bahagia itu serangkaian proses yang berkesinambungan [BUKAN hasil akhir] ketika saya berusaha BISA menerima, menikmati dan mengoptimalkan apapun yang saya peroleh dengan TIDAK lagi mempermasalahkan “kenapa-nya” dan lebih concern untuk bertindak UNTUK APA kejadian/hasil yang saya peroleh.

Dari ketiga jenis euforia rasa hati tersebut, bisa saya analogkan dalam bentuk Linearitas: Senang, puas dan bahagia dengan garis regresi yang memiliki nilai R mendekati nilai 1 adalah keadaan ideal [Figure. 1]. Jika variabel axis untuk menyimbolkan variabel-variabel harapan (expectation) dan ordinat sebagai representatative dari tingkat perasaan (perceive performance), dimana titik awal adalah rasa senang [sedih in another case], kemudian titik kedua menunjukkan rasa puas dan titik terakhirnya adalah ekspresi rasa bahagia. Ketiga titik tersebut secara natural dan idealnya akan berbentuk garis linear [BUKAN logaritmik lho?!]. Namun ketika kita membuat NILAI puas pada level yang over or lower reaction, maka hasilnya akan kacau, tidak bahagia ~ Life become crowded or unhappy ! [Figure. 2]


Tersertakan lagu ini semoga  bisa menambah semaraknya saat glorius moment the Happy B’day-nya...

BON JOVI - It's My Life
[Album: Crush, This Left Feels Right: Greatest Hits With a Twist (2003)]

This ain't a song for the broken-hearted
No silent prayer for the faith-departed
I ain't gonna be just a face in the crowd
You're gonna hear my voice
When I shout it out loud

*Chorus*
It's my life
It's now or never
I ain't gonna live forever
I just want to live while I'm alive




Untuk kamu yang berbahagia, Selamat hari jadi ya Mbak Syam...dengan bertambahnya usia dan meningkatnya kekayaan pengalaman hidup semoga secara linear akan menuju bahagia yang hakiki di dunia - akherat


Notes: Menang untuk kategori postingan Istimewa di sini