CAPTCHA dan Banned

Saya yakin bagi semua blogger dan para penjelajah dunia cyber sudah tidak asing dengan istilah CAPTCHA dan banned. Dan Bismillahirrahmaanirrahiim inilah cerita CAPTCHA dan banned yang pernah saya alami pada sebuah forum diskusi/sharing pendapat. Ada sistem reward untuk member aktif yang cukup fantastis dari akumulasi perolehan poin maka terjadi banyak kecurangan di forum tersebut. Sehingga diberlakukan sistem CAPTCHA. Namun di awal-awal CAPTCHA diterapkan masih belum beroperasi dengan stabil yang menyebabkan sering terjadi case ‘validation eror’ sehingga muncul duplikasi commment. Akibatnya banyak member yang aktif di banned [tanpa warning terlebih dahulu] dan langsung dijatuhi punishment melakukan tindakan copas. Maka kami pun melakukan verifikasi juga atas dukungan teman-teman di forum [yang tidak kena banned]. 

Salah satu teman yang banyak support adalah yang punya back ground lawyer. Dia memberikan arahan dan bimbingan bagaimana membuat pembelaan diri yang sistematis dengan dilengkapi telaah data yang akurat/valid sehingga tidak bisa dibantah lagi. Serangkaian ‘pembelaan’ kami kirimkan [via email] ke CS forum yang berisi telaah detail terhadap ‘data’ yang dianggap bukti ‘kesalahan’ kami di forum. Teman yang paham hukum tersebut pun di bantu suaminya yang mengerti tentang aplikasi IT, ikut serta memberikan dukungan dengan cara mengirimkan analisa kelemahan sistem IT dalam forum tersebut dan perbedaan tentang mana member yang secara sengaja melakukan kecurangan dan member yang di banned karena validation eror. Namun email tidak di tanggapai dan di forum admin memberikan pernyataan yang terlihat tidak profesional [baca:emosional] yang intinya register lagi saja apa susahnya? Bagi kami yang kena banned, akar masalahnya bukan sekedar bikin akun lagi itu mudah. 
Waktu itu hampir sebulan kami melakukan fight back karena yakin tidak melakukan kecurangan di forum. Tapi akhirnya kami pilih melupakan peristiwa banned daripada wasting time memberikan counter balik tanpa ada respon yang relevan. Toh akhirnya kami sesama member yang aktif membentuk grup di FB dan tetap bisa berkomunikasi secara akrab. Berawal saling comment di forum dan melalui seleksi alam [waktu] akhirnya kami menemukan mana orang-orang dari forum yang memang bisa jadi teman yang baik. Memang beberapa teman ada yang membuat akun baru dengan tujuan memberikan opini balik untuk pernyataan-pernyataan admin yang dianggap tidak obyektif terkait kasus banned terhadap member. Dan saya sendiri memilih tidak membuat akun lagi dengan alasan:
  1. Jika saya membuat akun baru, secara tidak langsung saya mengakui jika saya telah berbuat salah sehingga mau mengikuti saran admin untuk membuat akun baru.
  2. Meskipun membuat akun baru itu mudah, tapi bukan berarti admin bisa SEMUDAH itu men’dellisting member.
Sejak di banned, sesekali saya masih melihat ke forum sebagai outsider meski dengan rasa kecewa terlebih jika membaca pernyataan admin. Teman-teman yang biasanya jadi member aktif dan ‘lolos’ dari banned juga akhirnya tidak antuasias lagi berinteraksi di forum. Kami lebih sering ngobrol di grup FB dan hanya sekilas saja kadang membahas tentang forum tersebut. Dan inilah surat ‘cinta’ saya ke admin untuk pembelaan diri setahun yang lalu [dengan editing pada nama forum tersebut]:

Dear Admin XX yang Bijaksana,
Setelah saya simak dan pelajari DATA, maaf saya kurang setuju kalau attachment file yang admin berikan kepada saya disebut sebagai alat “bukti”, karena suatu alat bukti paling tidak harus memenuhi kriteria validitas dan traceability secara menyeluruh. Untuk melengkapi email saya sebelumnya, saya sampaikan sebagai wacana bersama tentang sumber-sumber kesalahan yang mengakibatkan muncul DATA yang di identifikasi menyimpang/salah:
  1. Apakah DATA tersebut merupakan hasil dari Human eror yaitu hasil tindakan copy paste mengingat pengertian copy paste adalah suatu tindakan duplikat yang dilakukan secara berulang- ulang dengan susunan kalimat yang sama di lakukan copy kemudian hanya melakukan paste saja dalam jumlah yang banyak ( ratusan bahkan ribuan ) dalam waktu yang relatif singkat.
  2. Apakah DATA tersebut terjadi karena kesalahan sistemik yaitu kerusakan menyeluruh pada sistem yang ada. Mengingat definisi kesalahan sistemik adalah suatu kondisi sulit/kerusakan yang terjadi pada suatu system yang apabila tidak diatasi dapat menyebabkan kekacauan proses dan akses loading (untuk forum XX misalnya) sehingga menyebabkan data-data yang di hasilkan terjadi deviasi yang fatal
  3. Apakah DATA tersebut hasil dari kesalahan random/acak yaitu kesalahan yang terjadi secara kebetulan/tidak di sengaja dimana besarnya berfluktuasi pada waktu yang bervariasi/tidak seragam.
Dari 3 jenis sumber kesalahan terhadap suatu DATA yang memberikan performance menyimpang/salah tersebut, maka analisa saya adalah sebagai berikut:
  1. DATA yang saya terima adalah termasuk kesalahan random ( acak) atau yang lebih di kenal oleh member XX dengan istilah validation eror,
  2. DATA yang Admin sebut “bukti” copas yang saya lakukan, saya lampirkan di attachment file   beberapa comment saya sticky untuk view case'nya.
  3. Secara menyeluruh baik jumlah maupun selang waktu comment dalam data tersebut sama sekali TIDAK bisa di kategorikan COPAS karena Copas di forum XX adalah tindakan memposting yang dilakukan dengan sengaja dalam jumlah yang banyak ( puluhan/ratusan bahkan ribuan) agar poin meningkat secara drastis untuk mereply 1 comment ( kasus copas di XX )
  4. Comment yang sama terposting untuk reply 1 comment terjadi maksimal 3 kali karena jika CAPTCHA eror, saya melakukan option resave. Kalau ada comment yang sama lebih dari jumlah 3 kali, bisa di trace kembali kalau comment tersebut untuk reply member yang berbeda (topic yang berbeda) mengingat dalam mengakses forum XX saya menggunakan open Tab 4 sampai 5 window melalui Opera dan Internet Explorer untuk mengantisipasi proses loading XX yang lambat
Dari uraian di atas, beberapa hal lagi yang ingin saya sampaikan adalah :
  • Saya tahu dan sadar sekali kalau tindakan tidak sportif akan berakibat fatal yaitu sampai pemblokiran akun, jadi tidak ada benefitnya jika saya melakukan tindakan yang melanggar peraturan yang admin berlakukan di XX.
  • Saya sangat setuju dengan sikap/tindakan sportif, maka demi kebaikan forum ke depan, semestinya Admin pun bisa sportif juga ( karena sikap dan tindakan sportif dalam suatu system/komunitas berlaku secara integral pada semua variable yang ada dalam system dan komunitas tersebut) menganalisa sebab dan permasalahan yang terjadi secara comprehensive sebelum diambil tindakan pusnishment, terlebih jika dicermati korban dari punishment ini rata-rata menimpa  pada member yang aktif di forum. Jika kondisi ini terus berlangsung, maka sangat mungkin member akan lebih memilih pasif dalam berinteraksi di forum.
  • Kiranya Admin bisa intens dalam menyelesaikan masalah validation error agar kedepannya tidak sering terjadi lagi.  Punishment terhadap member dengan penghapusan account bukan problem solving yang konkrit dan tidak fair karena sumber masalahnya adalah  validation error.  Karena hal tersebut justru akan membuat member yang aktif akan menjadi phobia untuk aktif  berkomentar di forum dan akan membuat forum tidak kondusif lagi suasananya.
  • Saya dan member yang terblokir khususnya, serta semua member forum pada umumnya sangat berharap Admin bisa lebih proposional dalam meninjau dilema double comment yang terjadi akibat validation error ini, tidak semata-mata menimpakan kesalahan pada member.

Demikian hasil telaah ini semoga bisa jadi wacana dan pertimbangan bagi Team Admin dalam melakukan pembenahan forum demi kebaikan dan kemajuan forum dimasa mendatang sehingga forum ini bisa lebih secure dan nyaman untuk semua member berinteraksi aktif dalam sharing opini secara sportif dan edukatif.



Pertengahan April 2011 akun saya di banned oleh adminnya dan setahun kemudian [akhir April 2012] ternyata saya dinyatakan masih termasuk dalam daftar member yang berhak menerima reward dari forum tersebut. Ketika kami [dulu] bersikeras melakukan pembelaan pun bukan untuk mendapatkan rewardnya, tapi berharap admin mau melakukan corrective action atas keputusan sepihaknya melakukan banned. Maka semenjak pembelaan kami tidak mendapatkan respon, kami pun merelakan dan menganggap semuanya sudah selesai.

Dan tadi siang saya di mention oleh teman sesama ‘korban’ banned. Dia menceritakan kalau dapat telpon dari CS forum tersebut yang mengabarkan bahwa dirinya masuk dalam dafar yang berhak mendaptkan voucher 2juta Rupiah dan menanyakan apakah saya juga mendapatkan telpon yang sama mengingat posisi kami saat itu memang berada dalam top 20 member yang berhak dapat voucher. Karena terkena banned maka [mestinya] kami tidak berhak mendapatkan reward tersebut. Tidak lebih dari 30 menit setelah saya membaca status teman tadi, ternyata saya juga di telpon dari CS tersebut yang mengkonfirmasikan jika saya termasuk member yang dapat voucher 2 juta! Alhamdulillah, Bahwa jika rejeki kita memang tak mungkin akan tertukar ataupun salah alamat. 
Read More - CAPTCHA dan Banned

[Reportase] Trip on Rajegwesi-Teluk Hijau

Meringkas cerita perjalanan [sok mBolang] beberapa waktu, tepatnya long week end 22-24 Maret 2012 lalu. Lumayan lama untuk mulai menuliskan jadi entry postingan. Teman-teman yang barengan mbolang sudah beberapa kali tanya kapan mau bikin ‘reportase’nya? Dengan gaya sok inosence saya berdalih karena foto-fotonya [dari 4 kamera belum dari camera HP] belum terkumpul. Padahal aslinya saya yang memang masih blank untuk membuat tulisan semacam reportase perjalanan #Pengakuan# kalau foto kan tidak mungkin sebanyak [sekitar] 6GB saya upload semua? Dan karena finally foto-foto yang saya maksudkan sudah terkumpul semua maka Bismilllahirrahmaanirrahiim, saya coba deh menuliskan cerita ‘petualangan’ selama 2hari jelajah wilayah Banyuwangi bagian selatan dan harap maklum jika uraiannya cenderung naratif banget.
Adapun rincian [RENCANA awal] tujuan perjalanan kami akan dilakukan selama 2 hari 1 malam dengan tujuan menginap di Sukamade. Pemberangkatan dijadwalkan pada hari Jumat pukul 5 pagi hari dari Banyuwangi (untuk mengantisipasi turunnya hujan karena jalur menuju Sukamade rawan hujan yang bisa menyebabkan sungai meluap sehingga tidak bisa menyeberang) dan sampai kembali di Banyuwangi pada Sabtu sore dengan rute sebagai berikut:
  1. Pantai Rajegwesi
  2. Teluk Hijau
  3. Sukamade --> menginap (camp atau penginapan)
  4. Pulau Merah (tergantung situasi dan kondisi)
  5. TN Alas Purwo--> sadengan (savannah)
  6. Pancur--> pantai plengkung (sewa mobil lokal)
  7. Trianggulasri
  8. Kawasan konservasi hutan mangrove Bedul.
Narsis [dulu] bersama Pak Sopir sebelum berangkat
Awalnya memang tidak berniat ikut karena long week end merupakan ritual mudik buat saya. Tapi setelah saya pikir-pikir lagi, jarang-jarang ada teman untuk berpetualangan begini. Berangkat sendiri jelas tak mungkin, karena menempuh medan off road dengan sepeda motor gak mungkin berani sendirian dan by car rental pasti over cost. Jadi kesepakatan final yang berangkat: 7 orang cewek dan 1 cowok! Rencana awalnya 12 orang, namun detik-detik terakhir 4 orang mengundurkan diri. Dari 7 teman seperjalanan tersebut, yang saya kenal langsung hanya 1 yaitu teman sekantor. Yang 6 orang baru kenal pas siap berangkat: 2 teman datang dari Jember, 3 dari Surabaya dan 1 dari Jakarta. Karena pertimbangan medan dan rutenya yang off road, maka teman kantor yang paham mapping wilayah Banyuwangi menyarankan untuk menggunakan [sewa] Land Rover. Hasil negosiasi dicapai kesepakatan harga rental 1 Land Rover 1,6 juta untuk trip 2 hari. Ternyata yang berangkat 2 Land Rover, kata sang pemilik [ikut dalam tour de Banyuwangi sehingga tim dari rental 4 orang] sekalian nge’track rute karena belum pernah terima order untuk rute wilayah selatan Banyuwangi sekaligus prepare jika ‘something happen’ selama perjalanan mengingat jalur ke arah Pantai Sukamade dan Alas Purwo berbeda 180 derajat dengan arah Kawah Ijen. Sekedar info, untuk rute Ijen harga sewa 1 Land Rovernya 500ribu guys!
Jalur jalan 'sempit' dimulai
Start perjalananpun akhirnya baru dimulai jam 6 pagi itu pun satu teman masih on the way dari Surabaya [travel yang ditumpangi sempat mengalami macet sehingga kesiangan masuk Banyuwangi] sehingga disepakati untuk menunggu di jalur keberangkatan yaitu sekitar Jajag  agar tidak terlalu lama menunggu lagi. Dan demi untuk menghemat waktu maka sarapan pun kami lakukan dengan kondisi mobil berjalan dan tentu saja jadi perhatian orang-orang yang melintas di sepanjang perjalanan karena kondisi mobil model open air sehingga selain bisa menikmati pemandangan sepanjang perjalanan secara langsung juga secara langsung dilihat oleh orang lain yang kami temui sepanjang perjalanan. Then the journey is starting...bertemu dan bersama orang-orang yang baru dikenal, ternyata banyak sekali hal yang bikin saya/kami saling kaget untuk kemudian tertawa. Salah satunya saat melihat teman yang baru naik dari Jajag karena baru saja tiba sehingga belum mandi, sikat gigi, dsb. Dan dengan santainya dia me’removal sisa-sisa taburan make up di wajahnya dan gosok gigi. Kemudian menggunakan deodorant, nyemprot parfum dan disempurnakan dengan ganti baju ketika singgah di SPBU.
Memasuki area perkebunan Sungai Lembu
Bagi saya dan yang lainnya sempat bengong melihat betapa confident tuh dia make over [meski standart] dalam situasi demikian. “ Udah kebiasaan sih, kakak-kakakku cowok dan sukanya cepet-cepetan kalau bepergian kemana-mana. Kalau gak siap model begini, bisa-bisa tampilanku amburadul gak terlihat cute deh, hehehe..” demikian penjelasannya dan tetap saja membuat kami terpana. Sepanjang perjalananpun tak henti dari riuhnya becanda dan saling ledek karena sebagian dari rombongan memang teman SMA dan sebagian sudah saling kenal sebelumnya.  
Rute jalan mulia menyempit ketika memasuki daerah Silir Agung dan jadi lebih hard way saat memasuki wilayah Pesanggaran [lokasi mbolang].
Sekira jam 10 pagi akhirnya tiba di pantai Rajegwesi, selama hampir 30 menit kami turun dan mengabadikan keindahan pemandangan pantai Rajegwesi
Pantai Rajegwesi
Terlalu singkat sebenarnya tapi apa boleh buat demi mengingat warning hujan yang bisa saja turun tiba-tiba yang bisa berakibat fatal bagi perjalanan kami. 
'Iklan' sunblock
Kemudian lanjut menuju Teluk Hijau yang berjarak sekitar 30 menit perjalanan dari Rajegwesi.  Untuk bisa melihat langsung Teluk hijau, kami harus mengambil rute memutar yaitu menyusuri jalan setapak di dalam hutan dengan medan yang naik turun serta licin [karena malamnya hujan].
Hasil jepretan Teluk Hijau  [di bawah tepian lereng ]
Rute yang lebih singkat adalah menyisir tepian pantai tapi resikonya hantaman ombaknya cukup besar sehingga kami lebih memilih jalur hutan dengan kecepatan langkah kami yang harus super hati-hati agar tidak terpeleset. 
Another view Teluk Hijau
Namun sekali lagi kami harus ikhlas melihat teluk hijau dari kejauhan dan mengambil gambarnya secara zoom karena ternyata rute’nya tidak sesingkat yang kami perkirakan meski jaraknya tempuhnya + 1 KM. Teman yang berjalan paling depan memutuskan berbalik arah karena bertemu orang sedang bertapa brata dan merasa tidak ‘sopan’ jika melewatinya. 
Leganya Noe [yg sempat ngalami sesak napas] bisa kembali ke mobil
Ditambah lagi salah satu teman mengalami sesak napas, akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan. Ternyata beberapa teman tidak membawa celana cadangan yang cukup dan pas kebetulan bertemu 2 pedagang baju yang baru turun dari perkebunan. Sehingga terjadilah transaksi jual beli celana sebelum melaju menempuh rute yang off road menuju Pantai Sukamade lokasi konservasi penyu dalam keadaan celana belepotan dan tangan pun tak luput dari hiasan lumpur yang mulai mengering. 
Lagi beli transaksi celana pengganti
Dalam kondisi demikian, kami yang sudah kelaparan mulai menyantap perbekalan yang dibawa dan betapa herannya kami saat teman yang dari Jakarta tetap posisi siaga dan tidak mau makan dengan alasan tangannya belum di cuci ! Wouuww, betapa santasi dan hygiene tetap dipertahankan olehnya meski harus menahan lapar dan menelan ludah melihat orang-orang di sekitarnya lahap menyantap makanan.
Sepanjang perjalanan beberapa kali harus berhenti saat berpapasan dengan mobil karena sempitnya jalan. Sampai di pos pintu masuk lokasi Sukamade, harus lapor plus beli tiket masuk sebesar Rp. 2.500,- per orang. Dari petugas Pos jaga kami mendapat informasi bahwa guess house sudah full booking oleh club Taft dari Surabaya. Dan kami pun harus siap JIKA tidak kebagian kamar untuk menginap dan semalaman tidur ala kadarnya di hall terbuka. 
Untuk sampai di Lokasi Pantai Sukamade, ada 4 jalur sungai yang harus di seberangi. Dan diwanti-wanti jika sewaktu-waktu turun hujan maka semua mobil harus meninggalkan lokasi sebelum air sungai meluap. Itu artinya kami harus siap menempuh jarak sekitar 4-5 KM dengan jalan kaki agar bisa menyeberang dengan menggunakan rakit untuk sampai di lokasi ‘aman’ parkir mobil.  Tapi justru disitulah ‘keindahan’nya perjalanan ini: menempuh jalan berlumpur, sempit, naik turun dan menyeberangi sungai, sungguh pengalaman pertama bagi kami.
 Zha tetap concern hygiene [dimanapun berada]
Begitu bertemu sungai pertama, kami langsung ‘pesta’ main air seperti orang yang sudah lama tidak melihat air. Mencuci sandal, sepatu, celana yang belepotan. Dan tak lupa teman kami yang miss Hygiene pun antusias cuci tangan, dibilas dengan tisyu antiseptik dan finishing dengan hand sanitizer baru deh melahap makanan. 
Ayo main di sungai
Oia, sempat terjadi insident dalam salah satu penyebarangan dimana salah satu navigator [tim pemilik mobil] naik di bagian belakang mobil untuk membuat keseimbangan agar laju mobil tidak terbawa arus. 
Navigator yang sempat terpelanting ke sungai
Ternyata saat posisi pegangan tangannya belum kuat tapi pak sopir sudah tancap gas, akibatnya sang navigator [terpelanting] kecebur sungai dengan sukses. 
Siap menempuh rute sungai-sungai
Dan kejadian lainnya yang muncul adalah, ternyata persediaan BBM habis dan para penjual bensin eceran di daerah pantai stocknya juga dibatasi. Dengan harga yang lebih mahal dan persediaan untuk dijual juga tidak banyak. Ternyata yang kehabisan BBM tidak hanya mobil kami, sehingga BBM yang tersedia di lokasi tersebut harus di bagi rata dapat 5 Literan! Alternatifnya si Bos rent car harus siap membayar orang ‘turun’ beli persediaan BBM untuk perjalanan keluar esoknya [ Signal awal rencana tidak berjalan sesuai jadwal ].




Read More - [Reportase] Trip on Rajegwesi-Teluk Hijau

Let’s smile ..

Iseng-iseng buka notes di FB, harap maklum ternyata ada beberapa Note yang di TAG oleh friendlist belum saya baca. Dan sampai pada 2 note dari salah satu guru SMP saya [ beliau dulu mengajar Matematika dan elektronika]. Membacanya membuat saya jadi tersenyum-senyum dan biar saya tidak senyum sendirian maka dengan mengucap Bismilllahirrahmaanirrahiim  saya jadikan postingan. Jadi sebelumnya mohon maaf jika ada kesamaan nama, tempat, peristiwa dsb. Bagi yang sudah pernah membacanya, yukk...di baca lagi biar bisa tersenyum lagi ya...So, here are the notes:

Sang Penjaga Malam...
PT Ogah Rugi, mempunyai seorang penjaga malam khusus ruangan yang menyimpan barang-barang berharga. Suatu malam hening sang penjaga yang sedang setengah tidur alias ngantuuukk berat mendengar suara “mak glodak kresek-kresek”… spontan saja sang penjaga yang sudah dibekali ilmu bela diri dan senjata pentungan itu dengan sigapnya bangun dan mngangkat pentungan. Suasanapun kembali senyap alias sepiiii. Karena tanggungjawab keamanan yg diembannya, sang penjagapun teriak menantang…”Hei… siapa itu?? manusia atau kucing…??” karena gak ada jawaban diulangi lagi pertanyaan itu hingga 3x. Akhirnya terdengar juga jawaban: “kuciiiinnnggg…..”. Lega rasa hati sang penjaga kantor sambil berkata : “Ya udah kalo kucing, lanjut cing….” Dan penjagapun tidur lagi..!!!



Gangguan Telepon.....
Pak Sastro sering kali melaporkan gangguan telpon dengan keluhan suara krosok-krosok ga jelas suaranya. Petugas telepon datang dan check pesawat sampe kabel-kabelnya dan dicoba ternyata suara jernih dan tidak ada masalah. Namun tiap Pak Sastro yang pakai pasti suaranya krosok-krosok..... BIKIN PUSING TUH TEKNISI. Usut punya usut... ternyata gangguan itu disebabkan oleh kumis Pak Sastro yang panjang mengenai gagang telepon. Waaahhhh..... berarti materi kuliah diklat gangguan telepon perlu ditambah, salah satu penyebab gangguan telepon adalah KUMIS PANJANG....!!!



Life too short for regret and disappoint. Karena setiap langkah yang kita buat, hanya ada dua hasil: Berhasil atau mencoba lagi...
Read More - Let’s smile ..

[Dampak] Pertambahan Penduduk Terhadap Stabilitas Produksi Pangan

Prolog : sebenarnya sudah cukup lama ingin membuat postingan yang terinspirasi dari artikel di website VOA Indonesia pada tanggal 11 Maret 2012, tentang “ 44 Negara Hadiri Konferensi Pangan di Vietnam ” konferensi yang diadakan untuk membahas masalah-masalah kebijakan dan peraturan, termasuk keadaan pangan dan pertanian di kawasan Asia-Pasifik, dan prakarsa untuk memetakan keamanan pangan dan tindakan perbaikan gizi serta meninjau ulang laporan mengenai cara-cara untuk mempercepat kemajuan menuju sasaran pengurangan separuh tingkat kelaparan di Asia-Pasifik sebelum tahun 2015. Sejalan dengan hal tersebut, bahwa pangan adalah hak azasi manusia yang didasarkan atas 4 (empat) hal berikut:
  1. Universal Declaration of Human Right (1948) dan The International Covenant on Economic, Social, and Cultural Rights (1966) yang menyebutkan bahwa “everyone should have an adequate standard of living, including adequate food, cloothing, and housing and that the fundamental right to freedom from hunger and malnutrition”.
  2. Rome Declaration on World Food Security and World Food Summit 1996 yang ditanda tangani oleh 112 kepala negara atau penjabat tinggi dari 186 negara peserta, dimana Indonesia menjadi salah satu di antara penandatangannya. Isinya adalah pemberian tekanan pada human right to adequate food (hak atas pemenuhan kebutuhan pangan secara cukup), dan perlunya aksi bersama antar negara untuk mengurangi kelaparan.
  3. Millenium Development Goals (MDGs) menegaskan bahwa tahun 2015 setiap negara termasuk Indonesia menyepakati menurunkan kemiskinan dan kelaparan separuhnya.
  4. Hari Pangan Sedunia tahun 2007 menekankan pentingnya pemenuhan Hak Atas Pangan. 

Gambar dari sini

Berdasarkan artikel tersebut dan melihat fenomena alih fungsi lahan pertanian yang marak terjadi dimana-mana, sehingga saya tertarik untuk mereviewnya terkait dengan potensi ketahanan pangan Indonesia khususnya dan secara global pada umumnya dengan mengambil  point of view dampak pertambahan penduduk terhadap stabilitas produksi pangan. Maka Bismillahirrahmaanirrahiim  jika membahas tentang tingkat kelaparan dan gizi buruk, tentu tak bisa lepas dari angka pertumbuhan penduduk dan akibatnya pada stock produksi pangan [dunia]. Laju pertumbuhan penduduk memberikan dampak secara langsung yaitu meningkatnya  (demand) konsumsi bahan pangan dan dampak tidak langsung yakni bertambahnya kebutuhan pemukiman yang otomatis akan mengubah lahan pertanian untuk dijadikan tempat tinggal. Secara lebih sederhana, sebab dan akibat tersebut seperti multiple efect yang tak terpisahkan. Pertambahan penduduk membutuhkan papan dan pangan, sedang produksi pangan juga sangat tergantung oleh lahan yang saat ini juga mengalami penyempitan karena alih fungsi untuk pemukiman. Krisis pangan sekarang dan di masa mendatang bukan hanya masalah kronis negara-negara miskin, tetapi juga akan jadi masalah serius bagi negara-negara maju dari semua belahan benua. Tanda-tanda dunia mengalami kekurangan pangan terlihat dari ketidakseimbangan jumlah penduduk dunia dengan produksi pangan global dimana asumsi jumlah penduduk dunia bisa mencapai 9 miliar pada tahun 2045. Kondisi demografi ini membutuhkan produksi pangan dunia yang harusnya naik 70 persen dari produksi saat ini.
Gambar. Stok Pangan Dunia Menurun
Source: United Nations World Food Programme,2008

Akan tetapi, target produksi pangan yang sedemikian besar terkendala oleh faktor bencana alam, fluktuasi iklim yang semakin tidak menentu, krisis energi, krisis ekonomi dan krisis politik ( yang berdampak pada mahalnya harga pupuk dan obat) serta pola penanaman yang menggunakan bahan-bahan kimia mengakibatkan penurunan tingkat kesuburan tanah dalam jangka panjang yang semua itu merupakan penghalang significant terhadap peningkatan produksi pangan. Kondisi tersebut masih ditambah lagi dengan menyempitnya lahan pertanian  karena pergerakan alih fungsi untuk pemukiman (sebagai konsekuensi lain dari pertumbuhan jumlah penduduk juga) yang juga merupakan penyebab yang cukup kritis untuk dicermati. Laju penurunan lahan pertanian di Indonesia  setiap tahunnya mencapai sekitar 2,8 juta hektar/tahun dan tingkat alih fungsi lahan pun terus meningkat setiap tahunnya sekitar 110.000 hektar/tahun (Data Kementerian Pertanian, 2011).

Pertanian, secara khusus dalam komoditi padi merupakan sektor yang penting dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat dunia. Bersama Filipina dan Malaysia, Indonesia disiapkan menjadi lumbung pangan di ASEAN yang diharapkan bisa bersama-sama mendukung Jepang, China, dan Korea Selatan untuk menjadi solusi dari masalah [krisis] pangan dunia. Untuk mencapai target menjadi food basket tersebut, tentu dibutuhkan pengembangan teknologi yang support terhadap produksi pertanian, anggaran yang memadai, dan peran aktif semua elemen masyarakat, terutama terkait dengan berkurangnya lahan pertanian akibat konversi lahan pertanian menjadi pemukiman atau area industri.
Alih fungsi lahan jadi pemukiman
Masalah tersebut berakar pada masalah ketersediaan, distribusi, keterjangkauan pangan, kemiskinan, pendidikan dan pengetahuan serta perilaku masyarakat. Selain itu, jumlah penduduk Indonesia yang besar dan tersebar dalam berbagai wilayah memerlukan penanganan ketahanan pangan yang terpadu dan terintegrasi. Penanganan ketahanan pangan yang dimaksud memerlukan perencanaan lintas sektor dan dengan sasaran serta tahapan yang jelas dan terukur dalam jangka menengah maupun panjang. Kerangka acuan untuk pengembangan produk pertanian tersebut bisa diklasifikasikan sebagai berikut :
  • Mempertahankan fungsi lahan pertanian
Yaitu menetapkan lahan-lahan pertanian (subur) sebagai area konservasi secara de jure dan de facto sehingga keberadaannya bisa dipertahankan sebagai area pertanian dan ini merupakan replacement (menurut saya) dari metode extensifikasi (menambah luas lahan pertanian dengan membuka area hutan dimana hal ini sudah tidak memungkinkan lagi untuk diterapkan karena  dampaknya pada global warning). Hal ini sudah dituangkan dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 Pasal 26 dan Pasal 53 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan, yang ditindaklanjuti dengan menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Penetapan dan Alih Fungsi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan oleh pemerintah RI yaitu dikeluarkannya Peraturan  Pemerintah Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2011 Tentang Penetapan dan Alih Fungsi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. Untuk detail pasal-pasalnya bisa dilihat di sini.
  • Intensifikasi Pertanian
Sebagai langkah simultan (follow up) dari point pertama di atas yang bertujuan mengoptimalkan hasil panen dari lahan pertanian. Sistem ini menitikberatkan pada pola dan tata cara tanam yang intensive yaitu mengimplementasikan hasil riset teknologi pertanaian dalam bercocok tanam padi. Salah satu metode yang sudah dikembangkan dan ternyata dapat meningkatkan produktivitas tanaman padi dan diminati oleh petani pada umumnya adalah SRI atau System of Rice Intensification,  yaitu teknik budidaya padi yang mengubah cara penanaman, pengelolaan tanah, air dan unsur hara yang ada dalam tanah. Metode ini dikembangkan oleh Fr. Henri de LaulaniĆ©, S.J bersama petani lokal di Madagascar sekitar tahun 1983. Di Indonesia sendiri, pengembangan SRI pertama diujicobakan dan dikembangkan pada periode 2002-2007. Metode SRI ada tiga macam yaitu organik penuh, semi organik dan non-organik, yang menggunakan atau tidak menggunakan pupuk kimia. Dan keunggulan metode ini adalah dari cara tanamnya yaitu menanam satu bibit dalam satu lubang dengan jarak penanaman yang cukup lebar, yaitu minimal 25cm x 25 cm. Sedangkan pada metode konvensional adalah menanam 5 - 10 bibit dalam satu lubang dengan jarak tanam yang lebih berdekatan. Dengan metode SRI organik penuh yang menggunakan pupuk alami dan pestisida nabati, maka unsur hara tanah dapat mengalami perbaikan. Hal ini merupakan alternatif yang baik untuk recovery kesuburan lahan-lahan pertanian intensif yang biasanya menggunakan pupuk dan pestisida kimia selama bertahun-tahun untuk mengejar peningkatan hasil panen (karena produktifitasnya lebih tinggi).
  • Diversifikasi usaha pertanian dan bahan pokok makanan 
Untuk pengembangan pola tanam pada berbagai agroekosistem dengan based concern pada kenyataan bahwa daya dukung kesuburan tanah sangat tidak mungkin jika sepanjang tahun ditanami padi. Dengan langkah diversifikasi ini bisa tetap menjaga tingkat kesuburan lahan pertanian, menghasilkan produk pangan yang juga eligible untuk di konsumsi serta memungkinkan hasil dalam jumlah yang maksimal karena dalam satu masa tanam di lahan yang sama bisa dihasilkan lebih dari satu jenis hasil pertanian. Misal jagung yang dikombinasikan dengan kedelai, ketela dengan jagung, dsb. Dan berdasarkan data impor beras dan umbi-umbian, diketahui bahwa upaya untuk meminimumkan ketergantungan terhadap impor beras dapat dilakukan melalui diversifikasi pangan dari beras ke ubi kayu dan ubi jalar. Dengan diversifikasi pangan dari beras ke bahan pangan lain tercermin terlihat dari perubahan pola konsumsi atas berbagai jenis bahan pangan. Dengan penurunan jumlah konsumsi beras di satu sisi dan kenaikan konsumsi bahan pangan lainnya di sisi lain menunjukkan adanya diversifikasi pangan bisa jadi alternatif untuk menuju keseimbangan terhadap kemampuan produksi beras. Seperti bisa kita lihat gencarnya sosialisasi gemar [makan] ikan dan secara eksplisit menunjukkan trend konsumsi terhadap produk pangan nabati dan hewani juga mengalami peningkatan, misalnya produk ikan, telur dan susu.

 Grafik perkembangan Konsumsi Pangan Hewani (1993-2007)
Sumber: Nuhfil Hanani AR, Indonesia Tahan Pangan dan Gizi 2015
Mempertahankan lahan [subur], intensifikasi dan diversifikasi pertanian secara simultan di harapkan bisa jadi langkah-langkah progresive dalam rangka peningkatan produksi pangan. Dan langkah perlindungan terhadap produksi dan jaminan ketersediaan pangan lainnya juga perlu disiapkan  antara lain: restriksi perdagangan, subsidi konsumen, perlindungan sosial dan kebijakan peningkatan produksi atau penawaran. Harga jual hasil produksi yang cukup tinggi diharapkan jadi daya tarik bagi petani untuk produktif dan pada sisi lain, subsidi konsumen ditujukan untuk mengurangi beban konsumen karena harga pangan yang tinggi. Dua langkah kebijakan yang dilaksanakan secara serentak, didukung dengan kebijakan restriksi perdagangan dan perlindungan sosial diperkirakan dapat memacu pertumbuhan produksi pangan di dalam negeri lebih tinggi. Karena jika harga jual tidak dilindungi maka lambat laun akan membuat petani menjadi pihak yang ditumbalkan sehingga bisa menurunkan motivasi bekerja di sawah dan meningkatkan arus urbanisasi yang bisa menimbulkan masalah sosial ekonomi baru lagi.  

Kesimpulannya, serangkaian program yang didesain untuk mengantisipasi dampak pertambahan penduduk terhadap stabilitas produksi pangan  (jika berhasil) maka merupakan solusi menuju ketahanan pangan dan dalam konteks yang lain juga merupakan langkah untuk menciptakan lapangan kerja baru dan mengurangi angka pengangguran.





References article:
  1. http://www.voanews.com/indonesian/news/44-Negara-Hadiri-Konferensi-Pangan-di-Vietnam-  142300045.ht
  2. http://pse.litbang.deptan.go.id
  3. http://www.citarum.org/
  4. http://www.paskomnas.com/

Read More - [Dampak] Pertambahan Penduduk Terhadap Stabilitas Produksi Pangan

[Sekilas] Permisif tentang Resiko [Kerja]

Membaca artikel/postingan peduli alamku tentang concert for Jakarta rubbish collectors, yang membuat go international kondisi yang sangat memprihatinkan dari rubbish collector dan terhadap tenaga kerja/pekerja secara umum yang kalau hendak dibuat listing saya yakin prosentase’nya akan sangat fantastic. Pada kebanyakan bidang dan sektor kerja, not just  rubbish collector field tapi secara general kondisi pekerja di tanah air memang still less attention, they do their job without appropriate uniform, no protection from contamination, lack of inssurance and also low [cost] payment. Dan Bismilllahirrahmaanirrahiim, merupakan fenomena sosial ekonomi yang masih jamak kita jumpai bahwa pekerja (karena melimpahnya jumlah tenaga kerja) sehingga bargain position’nya kurang kondusif. Hukum demand and order pun berlaku di ranah tenaga kerja, yaitu ketika suplay tenaga kerja melimpah maka upah yang ditawarkan pun bisa diminimalkan. Dengan kalimat superiornya  “ kalau mau di gaji sekian ya silahkan kerja. Jika tidak mau, yang antri lainnya kan masih banyak..”, mungkin dan kira-kira seperti itu jika di verbalkan.

Memasukkan batu bara
Kalau ditelaah lebih jauh, bukan hanya ketidakseimbangan antara lapangan pekerjaan dan jumlah tenaga kerja, namun masih significantnya jumlah tenaga expert WNA yang menduduki posisi-posisi strategis sehingga secara tidak langsung menyebabkan terjadinya degradasi kalangan terdidik Indonesia sehingga makin meningkatnya jumlah pengangguran dari  kalangan terdidik yang otomatis akan menurunkan kesempatan tawar dalam posisi bursa kerja. Wah, kok malah nglantur bahas polemik lapangan kerja ya? Kalau dilanjutkan bisa menimbulkan demo neh karena tulisan saya yang lebih bersifat subyektif. Jadi sebelum mblabar kemana-mana, saya kembali ke ide awal bikin postingan ini yaitu sekedar sharing beberapa foto yang tersimpan rapi di file. Sebuah gambaran yang mungkin tidak jauh berbeda dengan rubbish collectors hanya berbeda bidang pekerjaan/rutinitas. 

Mengeluarkan abu pembakaran
Dengan HANYA mengenakan kaos seadanya, si bapak mengerjakan tugasnya mengumpankan bongkahan batu bara ke dalam tunnel yang membara dengan suhu sekitar 400 OC. Sesekali mengintip untuk melihat kondisi di dalam tunnel, kapan perlu ditambah batu bara/kayu bakar dan mengeluarkan sisa abu pembakaran dari output yang ada di bawah tunnel. Mengoperasikan dan menjaga tunnel hingga menghasilkan panas agar kondisi suhu dan tekanan dryer (alat utama proses) tercapai untuk mengolah raw material (basah) hingga jadi produk kering (tepung).

Memasukkan raw material ke proses
Dan semua perlengkapan kerja yang dikenakan di setiap tahapan proses nyaris sama, hanya kaos seadanya dan sepatu yang jauh dari compatible. Tidak ada perlindungan terhadap kontak bahaya jika terjadi kecelakaan kerja, tanpa penghalang dari cemaran mikroba, tak memakai penutup hidung dari bau yang luar biasa menyengat, dst.
Sortir hasil samping proses
Demikian juga keadaan y`ng tidak jauh berbeda, perlengkapan dan resiko pekerjaannya harus dilakukan oleh tenaga kerja wanita yang menempati posisi sorting dan sizing raw material yang berupa ‘sisa’ ikan dengan kondisi yang bisa dibilang ‘limbah’. Mengingat raw material yang digunakan adalah sisa ikan (isi perut dan potongan kepala) yang otomatis mudah membusuk begitu out of cold chain temperature.
Perasaan miris, prihatin, simpatik dan entah apalagi yang berkecamuk di benak saya saat melihat ‘mereka’ berjuang demi menafkahi keluarganya dengan mengambil sikap permisif pada semua resiko dan kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja.  

Memperbaiki chrusher yang 'eror'
Kebetulan saat itu kami memang lumayan lama mengidentifikasi alur proses yaitu menunggu sampai ada output produk yang dihasilkan. Jadi saya punya peluang untuk lebih mendekat ke orang-orang yang sedang bekerja [memulai aksi investigasi off the record].
Kerjanya mulai jam berapa, pak? “tanya saya ketika bisa mendekati si bapak yang memberi umpan batu bara.
“ Tergantung bahan baku Mbak, bisa mulai jam 6 pagi sampai sore..” jawabnya dengan wajah berhias segaris senyum.
“ Terus gajinya, mingguan atau harian..”
Nggih harian, Mbak..”
Dan sayapun terbawa rasa ingin tahu, sehingga memberanikan diri untuk bertanya berapa gaji yang diterimanya dengan resiko dan beban kerjanya tersebut. “ Kalau boleh tahu, berapa gajinya sehari P`k?” dan tebak berapa gajinya? “ Empat puluh ribu...”.
Padahal upah pekerja bangunan saat ini sudah lima puluh ribu ke atas dengan jam kerja mulai jam 7 pagi sampai 4 sore.



Life's full of challenges, but these challenges are only given because GOD knows our faith is strong enough to get through them
Read More - [Sekilas] Permisif tentang Resiko [Kerja]

[Siapa] orang terpenting [dalam hidup] Anda

Menikmati akhir pekan dengan kondisi yang kurang fit, all alone by my self tapi tentu saja yang TIDAK teringkari ada Sang Maha Dekat yang tak pernah sesaat pun lepas menjaga saya, satu keyakinan yang membuat saya bisa merasa berani dan percaya diri dimanapun berada. Jika ada rasa takut mengibar, satu kalimat yang terdoktrin adalah I do believe GOD always with me, I hope so. Dan Bismilllahirrahmaanirrahiim daripada larut dalam melow tiada ujung manfaatnya, menuliskan kembali sebuah part dari buku “ Mendengarkan suara hati’, dengan sub judulnya sangat menarik (menurut saya) yang mengambil latar sebuah acara pelatihan untuk di simak sehingga saya ingin men’share dalam postingan ini..

Siapa orang terpenting dalam hidup anda?” tanya sang pengajar. “ Silahkan tulis 20 yang paling dekat dengan kehidupan anda sekarang “ demikian pintanya pada salah satu peserta yang di tunjuknya.
Seorang peserta perempuan maju ke depan dan menuliskan 20 nama di papan tulis, mulai nama tetangga, teman kantor, saudara dan orang-orang terkasih lainnya. Kemudian sang pengajar memintanya mencoret satu nama yang dianggap tidak penting. Maka dicoretlah satu nama tetangganya dan selanjutnya sang pengajar pun memintanya untuk mencoret nama-nama berikutnya yang dianggap tidak penting sampai akhirnya hanya tersisa 3 ama yaitu orang tuanya, nama suaminya dan nama anaknya. Dan ternyata sang pengajar masih memintanya untuk mencoret satu nama lagi. Dengan perlahan dan agak ragu, perempuan tersebut mencoret satu nama yaitu orang tuanya.
Coret satu nama lagi...” ternyata sang pengajar masih memintanya untuk mencoret satu nama lagi. Suasana dalam ruangan pun semakin hening larut dalam ‘permainan’ yang menggelisahkan ini. Tampak sang siswa perempuan tersebut menghadapi pilihan tersulit dan setelah termenung sejenak dia pun dengan yakin mencoret nama teratas yaitu nama anaknya. Seketika suasana menjadi pecah oleh berbagai luapan emosi. Setelah suasana reda, sang pengajar pun bertanya, “ Orang terkasih Anda bukan orang tua dan Anak anda? Orang yang melahirkan dan membesarkan Anda. Dan anak yang Anda yang lairkan dengan taruhan nyawa? Mengapa Anda memilih sosok suami sebagai orang yang paling penting, padahal suami bisa dicari lagi ?”
Dengan penuh kemantapan, perempuan tersebut memberikan penjelasannya, “ Waktu akan berlalu. Orang tua akan pergi meninggalkan saya. Anak pun demikian, jika ia telah dewasa dan menikah, ia juga akan meninggalkan saya juga. Yang benar-benar bisa menemani saya dalam hidup ini adalah suami saya”.

Senada dengan cerita di atas, beberapa waktu lalu (tepatnya bulan Pebruari saat ada acara di Jakarta) saya juga mendengar langsung pernyataan yang sama dari seseorang. Saat itu kebetulan kami satu meja ketika sarapan, ngobrol santai pun mengalir diantara kegiatan menikmati menu sarapan.  Kebetulan si Ibu yang saya maksud adalah salah satu yang jadi nara sumber. Saling cerita di antara kami, kemudian giliran si Ibu itu bilang jika sedang banyak acara/ kegiatan yang harus beberapa hari “pindah” tinggal di hotel maka beliau biasanya gantian sama suaminya, mana lokasi yang lebih memungkinkan untuk bisa saling mengikuti ‘pindah’ rumah tersebut. Pada akhirnya ya sama pasanganlah orang yang selalu ada buat kita. Ngrasain punya anak ya maksimal hanya sampai usia SMA. Setelah itu, mereka sudah punya kehidupannya sendiri, jadi tinggal kembali berdua lagi pada akhirnya...”



Kehidupan bisa diibaratkan seperti bawang bombay, ketika dikupas selapis demi selapis akan habis. Dan, ada kalanya kita dibuat menangis
saat lapisannya terkupas.
Read More - [Siapa] orang terpenting [dalam hidup] Anda

Ironi Strip Dua

Memberanikan diri mewujudkan impian sekaligus menguji kemampuan dalam mengurai kisah dengan tema “manis pahitnya sebuah pernikahan” dalam rangkaian literasi yang semoga ada dispersi manfaatnya. Membaca biografinya, bisa jadi para penulisnya sebagian besar masih belum punya pengalaman sendiri dalam mengarungi bahtera rumah tangga, namun bukan berarti jadi hambatan untuk mengeksplorasi berbagai kisah seputar kehidupan pasangan yang sudah berikrar janji suci di altar pernikahan. Melihat, membaca, merenungkan dan meresapi beragam peristiwa di sekitar keberadaan kita merupakan sumber inspirasi yang tak akan ada habisnya untuk bisa di bingkai sebagai wacana penuh hikmah. Bismilllahirrahmaanirrahiim inilah uraian sederhana dari buku:
Judul Buku       : Ironi Strip Dua
Pengarang       : Ririe Khayan, Novela Nian, Yanti Sipayung, Riskaninda Maharani, dkk.  
Penerbit           : Seruni Creative publishing
Halaman          : 168 page
ISBN                : 978-602-15463-9-0
Cetakan I         : 2012
ISBN                : 978-602-96725-5-8
Harga              : Rp. 31.000 (belum ongkir)

Tuhan tidak akan menurunkan hujan jika bumi tidak retak karena panas matahari. Tuhan juga tak akan memutar pagi menjadi malam jika manusia bisa lelap tanpa mimpi. Tuhan itu maha adil, Ia akan menciptakan sesuatu dengan berpasang-pasangan. Hujan dan panas, pagi dan malam. Bahkan pahit dan manisnya pernikahan pun DIA ciptakan guna memelihara cinta dan kasih sepasang lelaki dan perempuan dalam ikatan suci suami-istri. Dari pilihan judul serta pilihan tema antologi yang ditetapkan dari awal oleh admin, bisa langsung ditangkap  deskripsi dan isi buku ini adalah tentang kehidupan pernikahan dengan problematikanya. Mulai dari perbedaan cara bertutur kata, mengungkapkan pendapat, friksi dengan mertua, sepotong kisah masa lalu yang mengintip atau bahkan kesalahpahaman yang sebenarnya sepele namun menjadi konflik yang berlarut-larut, dilema perselingkuhan yang complicated dan beragam warna-warni kisah yang menghiasi ranah kebersamaan dua orang yang berbeda melebur dalam satu hubungan halal nan sakral pernikahan.


“Sebanyak apa bertengkar dan adu mulut dengannya, sebesar apapun kesalahannya, aku tetap mencintainya. Dan aku yakin ia akan berubah dan kembali bersikap baik lagi walau itu entah kapan, aku akan tetap menunggunya dalam setia” demikian cuplikan salah satu kisah yang mengangkat tema kesetiaan seorang istri yang di khianati suaminya. Perjuangan seorang istri dalam kisah telur ceplok yang ingin bisa menyajikan menu sarapan favorit sang sang suami yang masih menganggap masakan ibunya adalah yang terlezat (dibandingkan dengan hasil segala usaha istrinya untuk belajar memasak). Kelapangan hati seorang istri dalam pelangi dalam mahligai cintaku yang berjuang keras menjadi TKW demi menafkahi keluarganya namun justru sang suami berselingkuh, tekadnya yang bulat untuk mendamaikan hati  agar bisa  memaafkan pengkhianatan sang suami demi anak-anak dan keutuhan keluarganya. Dan Kisah yang tersaji dalam judul cerpen yang terpilih untuk tampil di cover Ironi strip dua tentang sebuah poligami yang di awali karena belum ada keturunan dan ironinya justru sang istri hamil pada saat yang bersamaan dengan istri kedua juga hamil then the story is begin....

Bahkan ketika sudah  ikrar pernikahan pun, tetap merupakan 2 makhluk yang berbeda. Bukan saja dalam cara berkomunikasi, melainkan juga dalam cara berpikir, merasa, memahami, bereaksi, menanggapi, mencintai, membutuhkan dan memberi penghargaan. Hubungan dan kebersamaan dua orang yang serba berbeda akan tetap kondusif dan sinergis, maka dibutuhkan pemahaman terhadap karateristik masing-masing personal sehingga meningkatkan integritas, kepercayaan, tanggung jawab pribadi, kerja sama yang makin erat dan cinta yang lebih besar. 

Dan Ironi cinta dalam pernikahan lainnya ada dalam judul Sebening Embun  “Aku mencintaimu, sangat. Kamu tidak akan tahu seberapa besar aku mencintaimu sehingga kebahagiaanmu adalah yang terpenting buatku. Kamu berhak mendapatkan yang lebih baik, tak perlu harus menanggung beban ini seumur hidup dalam ikatan bersamaku. Maafkan aku jika tidak bisa menjadi nahkoda yang bisa membawa pernikahan ini mengarungi lautan seperti yang kau impikan. Tetap bersamaku tak akan membuatmu menjadi wanita yang sempurna. Jadi biar ku tanggung semua ini sendiri karena aku teramat mencintaimu..”

Tanpa mengurangi rasa penghargaan pada semua karya dalam Ironi Strip Dua yang merupakan kompilasi dari 25 penulis yang berbeda latar belakang, umur, back ground pendidikan, bertemu dalam project bersama menerbitkan Buku Antologi, secara umum dalam cetakannya memang masih ada beberapa yang penulisannya kurang tepat (tanpa spasi dan kurang huruf). Dan mengingat capability saya dalam bidang literasi juga masih minimal, maka evaluasi secara internal hanya untuk hasil tulisan saya dalam antologi ini ‘ sebening embung”, honestly masih perlu banyak belajar dan berlatih lagi terkait penokohan, alur, setting dan  kelayakan susunan kalimat agar menghasilkan satu cerita yang secara integral mengalir lebih natural (tidak ujug-ujug menuju ending).


Semoga tulisan-tulisan yang terangkum dalam Ironi Strip Dua bisa memberi warna yang bisa semakin menyuburkan cinta yang tertanam dalam sanubari insani karena keluarga adalah karunia yang tak kan terganti. Bukan hendak menggurui tapi semoga bisa untuk merefresh bahwa menikah bukan untuk memiliki seseorang yang melengkapi kedirian tapi untuk menggapai kualitas diri yang lebih baik dalam kebersamaan dalam kerangka yang saling menyempurnakan by the time. Juga demi sebuah hasrat mulia: “ Aku mungkin bukan siapa-siapa bagi dunia ini, tapi aku akan berusaha menjadi dunia bagimu



Notes:
Buku ini bisa dipesan melalui sms 0856 4545 9192
Cara pesan Pesan ISD#nama lengkap#alamat lengkap#jumlah buku#no hp




Nama Kontributor:
*Allis Sephti *Awaluddin Firdaus *Awiek Libra *Bedhy Baradae *Deasy Rosalina *Dewi Lufays *Ferdaner Humairah *Ginanjar Teguh Iman *Heryka *Imania Eka Diyanti *Irfan Fauzi *Marisa Agustina *Nani Helmy *Nayza El Syakia *Nelly Tridinanti *Novela Nian *Rendra Mochtar Habibie *Ririe Khayan *Riskaninda Maharani *Rizal Dzikri *Ukhti Ana *Vina V Katerwilson *Wicha Spicca Breeze *Yanti Sipayung *Zulfa Yulia
Read More - Ironi Strip Dua