WHAT'S NEW?
Loading...

Senyum kemerdekaan

Foto ini di capture secara paparazzi oleh teman by phone saat menjelang lomba dalam rangka 17an beberapa bulan lalu, tepatnya Juli 2011 , maka saya memberinya judul ‘senyum kemerdekaan’.

 Definisi senyum dalam (maksimal) 30 kata, versi saya adalah:

Senyum itu memerdekakan dari: stress (sehingga terlihat awet muda),  dimarahi orang, menunda pembayaran hutang, penolakan camer, rasa gak enak masakan. 
Pokoknya senyum itu bikin hidup penuh keajaiban dan menambah pahala


~~~~~ Postingan ini Saya ikut sertakan pada Giveaway SEGGER ~~~~~ 




Maju Kena, Mundur Kena (Macet)

Mengalami dan terjebak dalam kemacetan lalu lintas tentunya hal biasa bagi warga metropolis Jakarta dan Surabaya ( terutama pada rush hour). Tapi tentu bukan hal biasa jika terjebak macet sampai hampir 17 Jam untuk jalur daerah ke arah Banyuwangi (otomatis merupakan jalur darat menuju Bali). Dan inilah yang saya alami pada 26-27 Desember 2011 lalu.
Saya sengaja berangkat lebih awal pada senin itu karena sudah planning akan singgah ke Gresik sebentar (ada sedikit keperluan di sana) kemudian mampir Surabaya dengan tujuan ke Toko Buku (beberapa buku yang masuk book marked belum saya temukan di TB Banyuwangi). Berangkat dari Gresik sudah dipayungi sisa hujan yang masih menggaris rapat, sehingga hanya bisa dropped for while di TP  karena dalam cuaca hujan yang ritmis dan waktu yang sudah malam, rasanya tak mungkin lagi untuk ke TB lainnya). Preambule ‘macet’ sudah dimulai ketika bis kota baru muncul setelah hampir sejam saya menunggu di seberang TP. Sampai di Bungurasih (karena sudah paham suasana terminal), tak perlu banyak meladeni tawaran para calo bus, saya langsung menuju jalur bis arah Banyuwangi. Ketika mendapati bis sudah penuh, saya berniat turun tapi bertemu sang kondektur di pintu dan di ‘bujuk’ masih ada kursi yang kosong. Akhirnya saya pun masuk bis lagi yang sudah siap lepas landas (sekitar jam 22.00) dan ‘nrimo’ dapat kursi ekstra di sebelah pak sopir. Saya pun setting posisi comfort dan safe (terlebih setelah pernah mengalami peristiwa kehilangan dompet plus HP), serta kewajiban membayar tiket sudah selesai, saya pun tidur yang tidak benar-benar tidur pulas buat saya kalau lagi on the trip.


Keluar dari Tol Gempol, saya mendengar pak sopir minta pada kru teknisinya untuk check mesin. Something wrong is happening, saya kurang paham kerusakannya apa, yang jelas  beberapa penumpang ngedumel: suara bis sudah aneh sejak awal kok tetap saja berangkat? Begitulah, semua penumpang di minta turun dan harus mau menunggu bis replacement dari Bungurasih. Almost at the middle of the night di pinggir jalan dekat tanggul lumpur lapindo. It’s okay, I’m not alone. Saya pun check HP, salah satu sms yang masuk dari teman kantor yang asalnya Kediri. “ Mbak, aku mau naik Kereta ternyata tiket KA sold out sampai tahun baru dan sekarang aku belum dapat bis karena penuh semua?” seneng deh ada temannya terlambat kerja #dasarrr.
capture from the bus
Sekitar 1jam menunggu, datanglah bis pengganti dan setelah proses tukar karcis (prosedur naik bis jk di oper ke bis lainnya), maka saya pun segera terlelap. Terjaga lagi saat menyadari posisi bis yang tidak melaju? Beberapa penumpang bilang ada banjir dan pikiran saya langsung pada lokasi dan rute yang sering kena Banjir yaitu daerah Keraton- Pasuruan. Kalau benar terjadi banjir lagi di rute tersebut, maka ini kali keempat banjir keraton pas saat saya dalam rute perjalanan Banyuwangi-Surabaya.


Pengalaman pertama beberapa tahun lalu, saya tiba di Banyuwangi jam 9 pagi. Peristiwa banjir yang kedua, bis yang saya naiki kea rah Surabaya belum sampai terjebak dalam macet karena sudah mendapat info dari temannya sehingga pak sopir mencari jalur alternative blusukan kampung dengan PeDenya. Yang ketiga saat saya naik Travel yang terpaksa menempuh jalan off road (karena sebagian besar rute yang di tempuh jalanan terjal berbatu dengan kanan-kiri jurang, bahkan pernah di suatu tanjakan semua penumpang diminta turun karena mobil tak sanggup menaiki tanjakan) “ Kalau tak ada penumpang yang mau naik pesawat jam 7, saya akan pilih berhenti di Tongas saja Mbak nunggu macetnya bubar”, demikian curhat pak sopir kala itu.
Kalau memang beneran macet karena ada banjir maka nothing I can do except sleep well again #sleeping beauty. Saya pun terjaga lagi tapi bukan karena kaget, perasaan saya sudah lama tertidur kok gak dengar aba-aba kondektur untuk memberitahu penumpang jika ada penumpang yang akan turun atau sudah sampai Terminal? Saya lihat jam tangan saya menunjuk di posisi jam 04.30 dan saya mencoba mengumpulkan nyawa dan kesadaran saya mencari tahu lokasi keberadaan saya…unbelievable bahkan masuk kota probolinggo pun belum??. Bukankah mestinya jam segini sudah masuk wilayah Banyuwangi??? “ Ada macet kenapa sih Pak?” Tanya saya pada kondektur yang kebetulan tak jauh dari saya “Ada trailer melintang di jalan, Mbak…” masuk akal saja deh, lha kalau terjadi banjir sehingga macet kan tentunya banyak yang terjebak macet termasuk trailer, truck, container ekspor, dsb.  


Akhirnya saya tak bisa tidur lagi, ‘menikmati’ laju bis yang beringsut perlahan seperti siput di tempat yang licin. Situasi seperti itu, maka say hello kemana-mana biar tetap bisa enjoy meski macet menjebak. Dan konfirmasi terbaru dari teman kantor saya lebih parah, dia masih di sekitar pasuruan yang artinya masih berada di pusat kemacetan “ Mbak Rie, turun saja naik ojek terus pindah ke bisku..” ucapnya berusaha bercanda. Dasar, masak saya di suruh balik arah menuju ke dia yang entah berapa KM posisinya di belakang saya?. Akhirnya jalur macet usai deh tapi rasa gembira terputus saat mendengar instruksi pak sopir pada kru teknisinya. Oh my God, this the second bus yang rusak?” Koplingnya lepas….” Sepotong kalimat yang saya tangkap. Dan setelah beberapa saat mencoba memperbaiki, finally they give up.  Jadi penumpang terlantar  episode dua. Dan kali ini tak bisa berharap cepat dapat bis pengganti karena jelas arah dari dan ke Surabaya macet total.


Waktu terasa banget berjalan lambat, battery HP sudah memasuki fase kritis. Mau nekad naik angkutan ke terminal probolinggo, jelas-jelas bis dari arah timur juga ‘berhenti’ karena sudah mendapatkan kabar macet yang super panjang Gempol – Probolinggo (tepatnya daerah Kademangan, ini setelah saya baca ketika posisi bisa melanjutkan perjalanan dan melihat titik terakhir deretan kendaraan yang berjejer). Salah seorang teman menyarankan agar saya kembali saja ke Surabaya, toh jaraknya masih lebih dekat jika ke Surabaya dan akhirnya sama-sama gak bisa masuk kerja kan masih lebih asyik di Surabaya bisa nonton, jalan-jalan, windows shopping, bla..bla..bla…. Gimana mau balik kalau rute ke Surabaya juga macet total, yang artinya: maju kena,mundur kena (macet).
Capture sambil duduk 'melas' di pinggir jalan
Berada di pinggir jalan lagi, dengan pundak yang mulai pegel nyangklong tas, pindah dari kiri ke kanan, capek duduk ganti berdiri. Bosen di luar pindah naik ke bis dan turun lagi karena gerah di dalam bis. Mau mengeluh kok lebay amat, saya lihat yang bawa barang lebih berat dari saya juga banyak. Apalagi ada yang bawa 3 anak kecil namun mereka tetap tampak sabar meski anak-anaknya mulai rewel. Ada ibu-ibu yang seumuran ibu saya juga tetap tenang (jadi inget Ibu saya yang hari sebelumnya saya cium tangannya saat berpamitan dan mengantarkan keberangkatan saya dengan kalimat “ Ati-ati yo Nduk..”,) Tarik nafas dalam-dalam: I’ll be fine just like them.


Saya yang biasanya alergi bawa makanan, entah kenapa kok waktu berangkat mengambil beberapa potong kue hasil karya sang adik ipar, yang ternyata bisa jadi pengisi perut saya. Hemm, Allah memang selalu sangat baik dengan cara yang serba tak terduga sehingga  menggerakkan tangan saya untuk membawa kue, membuat saya bisa menahan untuk pipis bersama para penumpang wanita lainnya. Saya tak melihat satu pun penumpang wanita yang kebelet pipis karena dengan posisi kami jauh dari perkampungan dengan kanan-kiri lahan pertanian maka akan sulit bagi saya dan penumpang wanita lainnya kalau kebelet pipis.
Dalam penantian serba tak menentu itu, ada yang protes pada Pak sopir (dibangunkan dari tidur) di suruh mbetulin tuh bisnya, ada yang mau demo wong bis rusak kok tetap di operasikan, ada yang punya ide untuk carter Angdes yang melintas untuk pergi ke Stasiun Tongas (Lha wong tikaet KA sudah sold out tuh), kami juga berubah seperti orang dari jaman flinestone belum pernah lihat bis: setiap lihat dari kejauhan penampakan bis (setelah dua jam parkir dengan bis rusak), kami teriak kegirangan. Dan ternyata yang muncul bis pariwisata dan pariwisata lagi. Tentunya bis yang belum terjebak macet sudah mengambil jalur alternative deh. Dan bagi bis yang sudah terjebak macet, butuh waktu yang lama untuk bisa keluar dari titik kemacetan ( info yang beredar panjangnya jalur macet mencapi 40 KM lebih !) dan posisi teman saya, dia masih little move dari posisi awal 2 jam sebelumnya.


Dan manakala bis non pariwisata yang muncul, ternyata tak bisa menerima luberan penumpang lagi meski kami sudah menyatakan siap berdiri sepanjang perjalanan. Pilihan kami ya tetap harus bisa sabar menunggu bis dari arah Surabaya dan baru kami dapatkan saat pukul 8 lebih dan landing di Banyuwangi jelang jam 3 sore. Demikianlah cerita heboh kemacetan yang saya alami yang masih lebih heboh saat on the land (daripada versi tulisan saya). Sepanjang perjalanan menuju Banyuwangi, hampir semua penumpang yang seperjalanan dengan saya saling bercerita tentang betapa rasanya arggghhhh.....hampir sehari semalam menempuh rute Surabaya – Banyuwangi (belum terhitung saya yang berangkat dari Lamongan juga penumpang lainnya yang mengawali perjalanan dari luar Surabaya), benar-benar memecahkan rekor yang pernah saya alami menuju Dumai beberapa tahun lalu.

Jadi, sekedar kasih saran bagi yang merencanakan long trip Surabaya kearah timur (perhaps wanna go to Bali), mengingat saat ini musim penghujan dan liburan anak sekolah yang otomatis beresiko terjadinya macet seperti yang saya alami apalagi kalau macetnya malam hari para pengguna jalan harus bisa ‘mengatur sendiri’ lalu lintas di jalan, maka sebaiknya persiapkan diri dengan:
  1. Peta local area (terutama wilayah Gempol sampai Probolinggo), sehingga anda bisa segera mencari rute alternative blusukan ataupun off road agar jadwal liburan tidak kacau balau. Yang terjadi kemarin ada bis pariwisata kehabisan BBM saking kelamaannya terjebak macet.
  2. Stay turn dengan media informasi On line (kalau di Surabaya ada Radio yang siaran live dan up date by minute tentang jalur lalu lintas).
  3. Bawa bekal makanan dan minuman yang cukup (yang tidak mudah basi ya), jangan mengandalkan ‘ah gampang kalau lapar kan tinggal berhenti di resto/warteg sepanjang rute pejalanan’.
  4. Jangan lupa bawa cadangan battery ponsel, Laptop atau gadget lainnya jika akhirnya terjebak macet masih bisa lancar berselancar biar gak stress !
  5. Satu lagi, latihan ‘menahan’ pipis juga perlu lhoh ? Hehehee…..





  1. Foto yang saya up load hanya deretan kendaraan karena mau menampilkan “korban” kemacetan kok rasanya tidak punya rasa empathy menampilkan wajah-wajah kucel, kusut, kusam, kuyu, kelaparan, belum mandi dan gak gosok gigi untuk di lihat orang sedunia # Sstttt, aslinya saya yang gak PeDe menampakkan wujud saya sendiri.
  2. Di posisi tersebut arah menuju Surabaya yang macet sedangkan arah ke timur sudah bebas jalur macet (lokasi beberapa KM memasuki kota Probolinggo)

Jika si Phobia Ngakak

Setelah mengobrak-abrik file album di Netbook, ternyata ada satu foto dengan ekspresi mirip ‘ngakak’ sehingga akhirnya memberanikan ikut dalam kontes proyek duo dari Mas KAhfi dan Mbak Fanny yaitu GA kolaborasi ‘Ayo Ngakak Sejenak’.
Foto ini di ambil waktu main ke Bali sekitar 2 tahun lalu bersama beberapa teman dari Jakarta. Waktu menyeberang ke Pulau penyu dan melihat aneka satwa yang  ada di sana, setelah asyik foto-foto narsis dengan para satwa, tibalah giliran tantangan foto dengan ular.

Awalnya saya menolak keras sampai guling-guling dan mengibarkan bendera peperangan, tapi demi mendengar salah satu teman bilang “ Ah, kayak gitu aje Loe kagak brani sih, Rie?”. Muncul tuh rasa gengsi saya, dengan menahan rasa takut, geli, ngeri dan lain sebagainya, sekaligus saya menantang diri saya: phobia ular harus di lawan dengan memegang ular secara langsung and this the time. Maka saya minta ke Bapak Pawang ular untuk menaruh ular di pundak saya.  
Everything running well saat ular mulai diletakkan di pundak dan tangan saya suruh megang, foto pose manis plus cute pun sudah selesai di jepret kemudian saya minta ularnya di ambil. Eh, lha kok si Bapak Pawang ternyata muncul juga sisi usilnya dengan teriak ularnya mau gigit gitu deh. Apalagi saya merasa tuh ular memang lagi gerak-gerak (perasaannya orang takut yang ditakut-takuti) langsung deh saya yang sedari awal menahan takut, geli dan ngeri jadi lebih ‘ekspresif’ paniknya seperti yang di jepret  teman dalam foto tersebut, dan al hasil bukan lagi ular yang jadi obyek perhatian tapi tingkah saya yang panic, ngeri dan geli histeris tapi malu mau nangis jadi menarik perhatian wisatawan yang ada di sekitar lokasi ikutan ngakak sejenak. Untungnya Bapak Pawangnya baik hati jadi gak tega lama-lama membiarkan saya dalam situasi yang ‘mencekam’ tersebut.


Foto ngakak yang cantik ekspresive orang panik plus ketakutan ini diikutkan dalam GA kolaborasi ‘Ayo Ngakak Sejenak’ yang di selenggarakan oleh Sang Cerpenis bercerita dan Man and The Moon

Kala Perempuan Diuji

Demi follow up rasa penasaran pada galaksi kinanthi, ketika saya tak bisa menemukan di rak-rak buku yang berjajar rapi (padahal di catalognya jelas-jelas ready stock), maka saya minta bantuan pada karyawan yang siaga jaga. Karena tetap tak bisa menemukan buku tersebut maka dimintalah  nomer kontak “jika sudah ketemu nanti kami hubungi Mbak “, ujarnya sopan plus tersenyum ramah. Maka setelah seminggu lebih tak ada kabar,  saya datang kembali dan ternyata yang pada jaga tampak bingung. Ternyata tuh buku sudah di retur katanya. Glodakkk…Pyarr…#emosi#. Nah ketimbang saya pulang dengan tangan hampa plus kecewa, maka untuk menghibur diri jadilah saya searching another books dan salah satu yang saya pilih adalah “Kala Perempuan diuji”. I decide to choose it with simple reason: sang pengarang adalah orang LA, eh tau kan LA dimana? Lamongan Asli euy..hehehe #sesama orang LA harus solid#  Setelah saya baca sampai khatam, ternyata isinya really amazing sehingga saya (belajar lagi) bikin revew. So, here is my second revew:
Judul Buku       : Kala Perempuan diuji
Pengarang       : Ayu Arman
Penerbit           : Suluk
Harga              : Rp. 41.900,-
Halaman          : 182 page
Cetakan I         : 2011
Perempuan kerap dipandang sebagai makhluk lemah, dan apa yang terjadi kala perempuan menghadapi cobaan dan ujian yang bertubi-tubi? Dalam buku ini ada 18 kisah nyata tentang kekuatan para perempuan yang mengalami peristiwa menyedihkan, mulai dari kekerasan, keangkuhan, hingga pahitnya takdir, dimana justru menampakkan betapa kuatnya mereka di tengah berbagai badai ujian hidup.  Ujian yang silih berganti, kesedihan yang sering menghampiri,  mereka sikapi dengan sabar dan sadar.
Tentang seorang wanita muda yang suaminya meninggal karena kanker di usai pernikahannya yang baru empat bulan menikah(setelah perjuangan panjang dan berat untuk bisa ikrar ke pernikahan) ” kini aku hanya mampu menyapanya dengan seserpih puisi: aku mencinta pada raga yang telah punah, pada tubuh yang beku pada suara yang bisu. Aku merindu pada yang tak berupa, pada yang tak berwujud…”. Tentang seorang istri yang anaknya meninggal beberapa bulan setelah lahir, kemudian di susul sang suami dan kenyataan bahwa dirinya divonis HIV/AIDS tertular oleh suami yg pengguna narkoba “Aku menerimanya dengan lapang dada karena semuanya sudah terjadi. Aku ingin suratan takdir yang membungkusku bisa menjadi pelajaran bagi semua penderita AIDS dan orang-orang lain yang belum tertular…” Atau kisah seorang istri yang well educated menikah dengan atas dasar cinta 24 karat (istilahnya) dengan lelaki yang well educated juga namun justru mengalami intimidasi dan KDRT (fisik dan psikis) oleh sang suami “Tuhan selalu selalu menyertai orang-orang yang sabar, Innallaaha ma’ash shabiriin…”
Beragam peristiwa yang tidak menyenangkan dalam dunia pernikahan memang bisa di alami oleh siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan. Namun, jika peristiwa tersebut dialami perempuan (fakta yang ada di masyarakat) adalah kadar penderitaannya akan jauh lebih berlipat ganda dan kompleks, karena stigma social dan nilai budaya menyuburkan kewajaran patriarkis selama ini turut menambah penderitaan perempuan.
Kisah pahit dan tak terduga (dalam buku ini) yang dialami oleh para perempuan tapi mereka berusaha membebaskan diri dan mencari hikmah di balik peristiwa sulit yang mereka alami. Sebagian ada yang bermetamorfosa menjadi manusia yang lebih bijak dalam memandang hidup setelah lolos dari momen kegelapan. Pengalaman mereka adalah kaca tentang bagaimana penggarapan diri kita sendiri. Dalam hidup, tidak ada orang yg pernah ingin mengalami peristiwa pahit dan tidak menyenangkan. Maka, berkeyakinan bahwa ada hikmah dalam setiap proses kehidupan bisa menjadi cara pandang yang lebih baik ketimbang meratap saat kita menjumpai realitas yang tiada kita inginkan

Tinggal kacamata macam apa yg kita gunakan dalam memandang setiap peristiwa yang kita alami. “ mungkin melalui ketegangan ini saya mampu merevolusi diri saya untuk menjadi lebih baik?” Tentunya proses penggarapan diri untuk menjadi individu yang lebih baik tidak semudah apa yang diucapkan. Perlu ada tekad yang kuat untuk berubah, mampu menerima kenyataan hidup sebagai kebenaran diri dan lebih penting lagi, adalah mampu memaafkankesalahan yang terjadi di dalam kehidupan kita.
Tak ada obat yang mujarab untuk menyembuhkan hati yang terkoyak, hati yang berdarah-darah karena luka, kecuali berdamai dengan kenyataan dan memaafkan diri dan orang yang telah menyakiti kita. Maka menyikapi tragedy hidup ini memang tidak selalu butuh romantisme, tapi juga butuh ketegasan dan keteguhan meski awalnya penuh isak tangis dan luka merintih. Dan di sanalah terselip pembelajaran bagi kita untuk menjadi lebih baik. Karena itu, berterima kasihlah dengan masalah yang menghampiri dan jangan pernah menyesali apa yang telah kita lewati.

“ Bahwa kemelut-kemelut hidup bisa jadi tasbih untuk mengingat Sang Maha Kuasa serta bisa menemukan pengetahuan diri yang baru sehingga kualitas Kemanusiaan menjadi lebih baik – Selamat hari Ibu

One Amazing Thing

Dalam rangka belajar membuat revew sekaligus memenuhi “paket” bawaan (bikin revew) dari hadiah GA blognya Mas KAhfi yang sudah sampai dengan selamat sekitar seminggu lalu, karena kebaikan sang punya hajat GA sehingga postingan saya pun dapat jatah hadiah, semoga dicatat sebagai amal kebaikan dan membawa manfaat bagi yang menerima hadiahnya, Amiin berdoa selesai. Sekalian dalam postingan ini saya selipkan ucapan terima kasih karena untuk kedua kali sudah dibantuin untuk recovery akun. Yang pertama akun yahoo (sekitar dua bulan lalu) di ‘pakai’ orang lain, kemudian kemarin peristiwa serupa terjadi pada akun gmail saya. Shock juga waktu login mendapat notice kalau akun tidak ditemukan/disabled, padahal pagi hari masih normal.  Singkat cerita, setelah coba-coba recovery tidak membawa hasil then ask helping pada Mas Kahfi dan siang hari (13-12-11) gmail ‘sembuh’. Then, many tengkyuuu….hatur panuwun kagem beliau Mas Kahfi yang berkenan merepotkan diri untuk recovery akun saya. 

Kembali pada judul entry yaitu tentang review One Amazing Moment.
Pengarang       : Chitra Banerjee Divakaruni
Penerbit           : Qanita
Halaman          : 410 page
Penerjemah     : Sujatrini Liza

Cerita berawal dan bersetting di Amerika tepatnya di kantor pembuatan Visa (India) ketika terjadi gempa, dimana sembilan orang terperangkap di gedung bawah tanah tersebut. Mereka yang tidak saling mengenal, kebetulan di kantor tersebut karena persamaan untuk mendapatkan Visa ke India. Mereka yang awalnya tidak saling perduli, namun oleh keadaan terjebak oleh reruntuhan dengan terputusnya semua jalur komunikasi ke dunia luar kemudian saling perduli dan membantu serta berbagi. Perasaan senasib menyatukan mereka dalam kekompakan yang tulus.

Setelah kejadian gempa, waktu berlalu demikian lambat dirasakan oleh orang-orang yang terjebak dalam reruntuhan gedung, air yang perlahan bertambah ketinggiannya, atap-atap gedung yang siap berhamburan, listrik mati, dan dimana-mana ada mayat yang mulai mengambang, sedangkan tanda-tanda datangnya pertolongan belum juga terlihat, dalam suasana yang demikian mencekam dengan rasa takut yang semakin mencengkeram hati.
Di tengah situasi yang serba tidak menentu dan ancaman terjadinya gempa susulan yang mengintai setiap saat, usaha yang dilakukan untuk membuka pintu keluar justru memperburuk keadaan. Sebagian mengalami cedera, dan tidak ada yang tahu kapan datangnya pertolongan sehingga rasa frustasi dan stress mulai melanda mereka. Untuk mengalihkan pikiran dan perasaan depresi, maka Uma sinha (yang mengurus Visa untuk mengunjungi kedua orang tuanya di India), mengusulkan untuk menceritakan sebuah cerita penting (One Amazing Thing) dalam kehidupan masing-masing.
Maka sebagai pengalih perhatian, mereka bersembilan bergantian saling berkisah  One Amazing Thing dalam hidupnya untuk mengalihkan rasa tertekan dan putus asa karena sudah puluhan jam bahkan lebih dari sehari semalam berada dalam bayangan maut. Kisah yang sebelumnya di simpan rapi dalam satu file memory di otak.

Dimulai oleh Jiang  (neneknya Lily) keturunan cina yang lahir dan di besarkan di India, hingga kemudian dia jatuh cinta dengan pemuda India juga Mohit Das. Jalinan cinta yang berlatar perbedaan ras dan agama tersebut mendapat pertentangan dari keluarga keduanya. Tapi mereka bertekad untuk memperjuangkan cintanya, hingga kemudian meletus Perang sino-India (1962) yang berdampak pada pengusiran  warga pendatang china agar keluar dari calcutta. Di saat situasi kacau dan genting, sang pemuda mendadak ‘menghilang’ dan baru memberikan kabar beberapa waktu kemudian dengan kalimat singkat “ Maafkan aku, aku mencintaimu tapi tak bisa memerangi seluruh negeri”. CInta sejoli pun kandas tanpa pernah bertemu kembali karena keluarga Jiang akhirnya harus meninggalkan India. Jiang dinikahkah dengan salah satu teman seprofesi kakaknya (dokter gigi) dan meskipun awal pernikahan hanya di landasi hak dan kewajiban (menurut Jiang), tapi dengan berjalannya kebersamaan yang penuh perhatian, keperdulian dan keberterimaan akhirnya menumbuhkan benih cinta yang tulus di hati Jiang “kita bisa benar-benar berubah tanpa kita menyadarinya sendiri. Tapi cinta menyisip seperti pahat…” KIsah yang memorable bagi JIang yang sebelumnya tak pernah di ceritakan pada suami maupun anak-anaknya. Keinginan untuk bertemu dan bernostalgia dengan kakaknya (Vincent) di Calcutta telah membuat dirinya bersama sang cucu terjebak dalam ruang bawah tanah.


Yang mengajukan diri bercerita selanjutnya adalah Mr. Pritchett (pengusaha sukses namun pernikahannya tidak di karuniai anak) yang berada di kantor visa dalam rangka ingin memenuhi impian sang istri (yang baru recovery dari sakit) untuk traveling di negeri Taj Mahal. Masa kanak-kanak Mr. Pritchett ternyata tidak segemilang kesuksesannya dalam karir. Hidup dari kalangan pinggiran dimana ibunya tidak begitu perduli akan dirinya karena lebih suka tidur (sehingga baginya sang ibu mirip legenda putri tidur) dan berjam-jam melihat acara TV: I love lucy atau asyik mendengarkan Lassie come home, tapi dia tetap sayang sekali dengan sang ibu. Jika ibunya ada pekerjaan atau acara, maka Mr.Pritchett kecil pun di titipkan dari satu rumah ke rumah lainnya (mana yg bisa di titipi). Lika-liku hidup masa kecilnya serba susah dan tak pernah diceritakannya pada sang istri sehingga cukup membuat Mrs. Pritchett kesal dan ingin marah karena merasa di anggap ‘orang asing’ dengan sikap sang suami yg selama ini menyimpan rapat cerita kelabu hidupnya di masa lalu.


Yang tak kalah amazingnya juga kisah dari Mr. V.K.S Mangalam sang petugas di kantor visa, Miss Malathi yang ternyata pernah ‘mengerjai’ seorang wanita sosialita sewaktu bekerja di sebuah salon di India sehingga membuatnya melarikan di sampai ke Amerika. Atau Cameron dan Thariq sang pemuda muslim, juga cerita Uma Sinha yang ternyata dalam hatinya tidak begitu merindukan kedua orangtuanya (yang telah memutuskan untuk menghabiskan masa tuanya kembali ke India).

Bagaimana ending orang-orang yang terjebak tersebut? Silahkan membuat ending story berdasarkan keinginan masing-masing. Bagi yang menyukai pemaparan cerita dengan detail tokoh, suasana dan latar yang ‘hidup’, maka novel One Amazing Thing bisa masuk daftar pilihan yang akan membawa diri anda melting dalam imajinasi sang penulis. 

“ Sedekat dan sejujur apapun seseorang, tetap ada (kemungkinan) rahasia yang tersimpan rapi pada lipatan memory”

The Give Away Mr. Gaphe Bercerita

Kalau membiacarakan Give Away, saya ingin ikut semua GA meski hanya sebagai peserta penggembira (tapi nulisnya tetap serius lho). Tapi karena beberapa hal (salah satunya ‘blank’ idea), jadi ikut GA yang kiranya saya bisa membuat tulisannya yang sedikit relevan dengan term & condition sang empunya hajat. Ya haruslah ikut GA itu wajib patuh pada aturan mainnya *koplakk*. Dari aktifitas Blogwalking, biasanya yang pertama saya kunjungi yang sudah menyediakan diri untuk meninggalkan jejak (shoutmix dan comment), baru kemudian klik up date yang muncul di dashboard. Jadi bisa di bilang random visit, karena loginnya tidak tentu waktunya. Wah, jadi bertele-tele ya prolognya. Oke deh, langsung pada GA dari Mas Gaphe Bercerita (seperti comment yang sudah saya jejakkan pada Giveaway: warisan oleh-oleh bahwa saya berharap semoga bisa ikutan), jadi inilah hasilnya:
 # Mengapa cerita perjalanan Gaphe menuju Melaka dan Penang layak dibikin free e-booknya?
Setiap orang berhak dan layak untuk bikin e-book (saya juga boleh tentunya # Halah) selama dia punya materi yang ‘valueable’ bagi orang lain atau setidaknya rekam jejak untuk life story diri sendiri. Meski dengan tema yang sudah banyak publish, tapi tiap orang punya style/karakteristik dalam penulisan dan konsumen e-book juga punya sense yang heterogen. Dan karena segmentasi e-book ini tentang traveling ala back packer yang sedang berkelana mencari cinta di Melaka dan Penang, maka tentunya para pembaca  akan mencari panduan traveling yang friendly reading, easy to understand and give more  tips/triks for being back packer yang murah, meriah, aman dan nyaman. Jadi kalau boleh sedikit usul plus berharap, semoga e-booknya disajikan dalam frame dan narasi yang enjoyable to read dan simple, jadi kalau di print langsung bisa digunakan sebagai guide book in the (my) pocket.  Amiiin:)
#Chapter mana yang paling kamu sukai dan apa alasannya?
Dari sekian Chapter yang sudah saya baca (mungkin 3chapter awal yang belum saya baca), maka ini dia chapter yang bikin saya terkesima plus terkesan abis “ Chapter 10: Dirampok” Jarang-jarang tuh ada tukang palak (tau kan artinya palak?), yang ‘baik hati’ memberi kesempatan untuk nukerin uang dulu (kalau gak baik hati, udah di minta semua tuh 50 Ringgit), kemudian mengucapkan ‘makasih’ serta meingatkan untuk sholat juga. Jadi sebaiknya mas Gaphe juga mengucapkan terima kasih karena sudah mendapatkan pengalaman langka tersebut. Hehehe…Upss,maaf bukan bermaksud mendukung sikap  Bapak India tapi biar mas Gaphe tidak lama-lama kesal,jengkel plus ngambeknya oleh kejadian tersebut. Yukk, cheerrrss yaa….


  Alhamdulillah bisa menyelesaikan postingan ini (at the last day) dan karena dua aspek utama sudah bisa saya jawab versi subyetif diri saya, maka dengan membaca Bismillah saya menyatakan bahwa Entry ini diikutsertakan pada Give Away: Warisan Oleh-oleh yang diselenggarakan oleh Mr. Gaphebercerita



Harmoni Kebersamaan untuk sinergis


Prolog: I found this entry dari hasil clean up email, dengan satu maksud sederhana saja ketika terbersit untuk menaruhnya di blog “ biar tidak freeze jadi penghuni outbox email”. Terima kasih bagi yang berkenan membacanya


“Everyone is created equal but definitely different”
Bahkan ketika sudah  ikrar pernikahan pun, tetap merupakan 2 makhluk yang berbeda. BUkan saja dalam cara berkomunikasi, melainkan juga dalam cara berpikir, merasa, memahami, bereaksi, menanggapi, mencintai, membutuhkan dan memberi penghargaan. HUbungan dan kebersamaan dua orang yang serba berbeda akan tetap kondusif dan sinergis, maka dibutuhkan pemahaman terhadap karateristik masing-masing personal sehingga meningkatkan integritas, kepercayaan, tanggung jawab pribadi, kerja sama yang makin erat dan cinta yang lebih besar. Dengan memahami bahwa teman kita sama berbedanya dengan diri kita sendiri, maka kita akan bisa mensinergiskan perbedaan-perbedaan tersebut dan menjadikannya sebagai elemen untuk saling melengkapi kekurangan/keterbatasan yang ada pada diri masing-masing, dan bukannya sibuk untuk mengoreksi/melawan/bahkan mencoba mengubahnya.

TANPA kesadaran bahwa kita memang berbeda, secara keliru kita akan menganggap bahwa apabila pasangan kita mencintai kita, dia akan bereaksi dan bertingkah laku dengan cara-cara tertentu sebagaimana reaksi dan tingkah laku kita apabila mencintainya.TANPA kesadaran yang jelas tentang perbedaan-perbedaan yang ada, kita takkan mau memahami dan saling menghargai. Kita menjadi penuntut, mudah menghakimi dan tidak sabaran. 


Melalui pemahaman akan perbedaan-perbedaan lawan jenis, kita dapat lebih berhasil Untuk memberi dan menerima cinta yang ada dalam hati kita. Dengan meneguhkan dan menerima perbedaan-perbedaan, maka pemecahan-pemecahan kreatif dapat ditemukan sehingga mendapatkan apa yang menjadi goal kita. Dan yang lebih penting kita dapat mempelajari bagamana mencintai dan mendukung orang yang kita cintai dengan cara yang lebih bijaksana. Cinta itu ajaib, dan dapat berlangsung lama kalau kita memahami dan menerima perbedaan-perbedaan karakter masing-masing.

Menghargai perbedaan diri karena ia justru menambah pengetahuan dan pengertian tentang realitas mengasah kematangan emosi.
Hidup secara alamiah sangatlah saling tergantung, berusaha mengerti terlebih dahulu akan mewujudkan sinergis yang mutualisme.

Setiap pribadi adalah individu-individu yang unik dan khas yang memiliki ciri dan karakerisitiknya masing-masing. Mencintai seseorang berarti sudah mengukur batas kemampuan diri sendiri untuk bisa menerima/memahami apa dan bagaimana dia sebagaimana adanya, sehingga segala perbedaan yang ada menjadi kekayaan bersama untuk saling menambah, mendukung dan saling menutupi kekurangan.

Dua orang yang menjadi satu dalam cinta adalah suatu proses penyempurnaan, melengkapi dan enrichment kualitas diri melalui kekhasan dan keunikan masing-masing dalam rangka mewujudkan tujuan bersama.




  1.  Tulisan ini saya buat beberapa tahun silam saat sharing dengan seorang teman (by email) yang sedang gundah dengan pernikahannya (tepatnya akan pasangannya).
  2. Asli ini uraian pemahaman teori (summary dari hasil 'baca' membaca), karena saya sendiri belum menikah dan bukan bermaksud untuk menggurui atau memberikan konsultasi, melainkan respon balik argument saya (seadanya) yang masih sebagai “penonton” dunia pernikahan.
  3. Nah daripada tersimpan dalam outbox email, jadi saya posting di Blog (at least) buat wacana saya pribadi (yang heran juga waktu membacanya lagi, kok saat itu saya menulis sok bijaksana gini ya?)




Melangkah di atas Awan

*Sebelumnya minta ijin dulu (pada sapa ya) karena kali ini menggunakan judul lagu sebagai title postingan, juga maaf review One Amazing Thing hadiah  GA man and the moon  belum terselesaikan membacanya eeh, lha kok malah bikin postingan ini, Dassaaaarrr ...!*

Berada di udara merasa lebih lama daripada di permukaan bumi, itu yang selalu saya rasakan ketika naik pesawat. Pertama kali naik pesawat (gratisan), saya pikir mungkin euphoria cah ndeso pertama kali naik pesawat serta di perkuat oleh guruan teman-teman “efek orang yang biasa naik bus umum tuh…”. Tapi setelah berkesempatan beberapa kali menempuh perjalanan udara saya makin yakin jika waktu 1jam berada di atas permukaan bumi memang lebih lama daripada di bumi BUKAN semata refleksi perasaan ‘merasa’ walaupun penunjukan jam dan gerak jarum detik di arloji saya tidak mengalami perlambatan.
Akhirnya file di memory otak saya ada yang terbuka, tentang pelajaran Fisika mengenai Teori relativitas (jadi ingat juga saat sang Guru Fisika yang sekaligus wali kelas saya sempat memberikan sindiran yang menampar *PLakkk*, beliau bilang: kamu itu ambil jurusan Fisika tapi nilai fisikamu paling jelek dari pelajaran lainnya). Salah satu soal Fisika yang masih saya ingat adalah tentang dua orang yang satu di kirim ke luar angkasa dan satunya tetap tinggal di bumi. Yang ditanyakan, setelah 10 tahun di suruh menghitung usia mereka *Wahhh*…Nah inilah yang kemudian saya gunakan untuk kembali berargumen  bahwasanya semakin jauh dari bumi maka waktu akan lebih lambat (point teori relatitivitas yang bisa saya pahami).
Tapi saya tidak hendak menulis tentang relativitas waktu, sudah ada expert yang skilled soal tersebut, Mr.Albert Enistein beserta penerusnya. 

Ketika beberapa waktu lalu dalam perjalanan ke Jakarta (lagi), kebetulan bisa mendapatkan tempat duduk di dekat jendela, sehingga saya bisa leluasa menikmati pemandangan di antara awan-awan dan landscape nun jauh di bawah. Salah satu view langit yang saya sukai adalah melihat gumpalan-gumpalan awan, apalagi saat senja menjelang dengan cuaca yang cerah ceria dimana lazuardi akan tampak memukau oleh hiasan gumpalan awan berserat jingga yang dihasilkan dari pancaran spectrum cahaya tampak matahari (dengan frekwensi dan panjang gelombang tertentu) yang dihamburkan oleh lapisan atmosfer. Imajinasi waktu kecil, menghayalkan bahwa gumpalan awan jika di sentuh akan lembut seperti kapas atau busa sabun. Menghayalkan suatu ketika bisa berada sangat dekat dengan awan-awan di langit *anak kecil menghayal tingkat tinggi (baca: awan)*. Saya hanya ingin menikmati tanpa harus membedakan bentuk awan-awan tersebut mana yang termasuk awan Commulus, Stratus atau Cirrus
Sementara teman di sebelah saya asyik mendengarkan music dengan head phone yang di sediakan pesawat sambil memejamkan mata (tidurkah?), snack juga sudah ludes, gelas soft drink telah kandas isinya, terlelap juga sudah cukup lama tadi rasanya. Mau membaca buku, lha saya selalu pusing kalau membaca dalam kondisi mobiling. Jadilah  saya sok PeDe bergaya mendadak ala fotographer karbitan mencoba mengcapture pemandangan di luar jendela. Saya pikir, kapan-kapan bisa dibuat postingan di blog. Hehehee… 
Ah iya, setiap moment naik pesawat saya juga teringat joke dari seorang teman saat ada yang bilang takut naik pesawat. Teman tersebut bilang ”Kalau takdirnya meninggal sama-sama karena kecelakaan, bukankah masih lebih baik naik pesawat, bisa meninggalkan warisan banyak karena asuransinya besar jika kecelakaan….”

By the way, any way and bus way, kalau joke tersebut saya terjermahkan dalam sisi yang lain maka: semakin tinggi kita terbang, maka setinggi itu pula hendaknya kita persiapkan diri jika mengalami jatuh/gagal. Ketinggian yang ingin dan hendak kita capai, maka resiko jatuhnya akan linear dengan tingkat keberhasilan yang bisa kita dapatkan pada titik tinggi tujuan tersebut. Maka jangan pernah terbang tinggi jika takut jatuh. Tapi tetap lebih baik berani untuk terbang dan siap menghadapi resiko jatuh (gagal), karena itulah dinamika kehidupan yang menantang, bukankah tantangan adalah wajah lain dari kesempatan?.
Yuk menyimak syair lagu “ melangkah di atas awan” saja dulu…..

Ronnie Sianturi - Melangkah di atas awan

bagaikan melangkah di awan
semua hanya angan-angan
tak mudah meraih bahagia
bila arah saling berbeda

bagaikan rembulan dan mentari
tak mungkin seiring sejalan
simfoni ini sebuah elegi
dua irama di satu jalanan


disini ku bernyanyi sedih
nuansa biru cinta kasih
ku singkap tirai kelam malam
ku nanti sinar fajar pagi

laguku kan mengalun sendu
menjadi bingkai dua hati
melambai angan yang melayang
ku jelang esok kan kujelang



What Love Is….


*** Prolog: dari acara bersih-bersih tumpukan map dan file, saya temukan beberapa kertas yang isinya tulisan tangan saya beberapa tahun lalu. Setelah memilih dan memilah, maka saya jadikan postingan ini (salah satunya)***

Seumur hidup pun aku tak akan mampu mengumpulkan kata-kata yang precisely untuk menerjemahkan dan mendefinisikan lima huruf “CINTA” yang dengannya bisa membuat orang tertawa bahagia, bersemangat, menangis atau bahkan terpuruk jatuh bangun (tragisnya jika terpuruk sehingga ‘tak mau’ bangkit lagi, mengenggam erat cerita cinta yang sudah tak ada di genggaman sedemikain penting dan berharganya sehingga tak bisa melihat lagi masih banyak hal yang jauh lebih berharga bisa di raih).

Yang aku tahu, segala sesuatu memang membutuhkan proses, fight dan waktu. Segala sesuatu ada masanya sendiri-sendiri, entah akan terjadi dengan cepat atau lambat karena sesungguhnya tak akan ada yang bisa menyegerakan apa-apa yang ditentukanNYA untuk datang kemudian, demikian juga tak ada yang bisa menghentikan segala sesuatu yang dikehendakiNYA untuk datang dan terjadi lebih cepat. Hak kita, wilayah kita, jangkauan kita: planning, fighting, praying then acceptance with brave heart.
Terlebih untuk membuat keputusan agar pilihan kita jatuh pada orang yang tepat, sehingga sepanjang usia  berhias harmoni yang indah.

Menunggu memang membutuhkan banyak hal, namun melakukan Ikhtiar memerlukan jauh lebih banyak lagi Iman, Keberanian, pengorbanan dan pengharapan serta kebesaran hati “karena CINTA adalah kata kerja”. Cinta –perasaannya- merupakan buah (hasil) dari cinta -kata kerjanya- yang harus diperjuangkan dan dijaga agar bersemi dan bertumbuh mekar sampai maut memisahkan.

Mendapatkan orang yang kita Inginkan (baca: cintai) tentunya akan membuat hidup lebih hidup. Akan tetapi mendapatkan teman hidup yang di sukaiNYA merupakan kebahagiaan hidup dunia akherat "Bahagia tidak berarti selalu berisi cerita yang penuh warna tawa suka dan serba kecukupan materi/fasilitas, bahagia adalah kemampuan kita untuk 'menikmati' apa yang kita terima, adanya motivasi untuk fight for better tomorrow, bahagia tidak selalu berisi tentang rangkaian keindahan----->  definisi ini menurut saya (subyektif)."

Jadi,

Tetap lebih penting untuk menemukan sang dia belahan hati yang disukaiNYA, tidak masalah prosesnya akan cepat/lambat karena cinta adalah kata kerja, nilai-nilai yang di ekspresikan melalui perbuatan penuh kasih sayang dan saling keberterimaan (any aspect). Dengan demikian, cinta sejati, seyogyanya adalah cinta yang bertumbuh dalam mahligai pernikahan yang seiring langkah sang waktu dalam kebersamaan untuk meraih kebahagiaan yang hakiki.


Disadari atau tidak,

DIA dengan segala keajaibanNYA  dan dengan hikmatNYA selalu memberikan yang terbaik yang kita butuhkan (bukan yang kita inginkan !)


Atas saran dan dukungan teman-teman blogger, maka saya beranikan diri untuk mengikutsertakan postingan ini dalam

Sekaligus teriring ucapan turut berbahagia serta selamat atas wedding anniversary ke-5 buat Mbak Zoothera beserta suami (keluarga): Semoga selalu bersama dalam pernikahan yang diberkahi oleh ALLAH SWT dan berbahagia selamanya….amiin.


Note: dari sebuah tulisan di selembar kertas yang entah kapan aku menulisnya