WHAT'S NEW?
Loading...

Ini Tentang Cita-Cita

Apa Cita-citamu? Nanti kalau besar mau jadi apa?....and bla..blaa… sebuah pertanyaan sederhana (standar?) yang sudah puluhan dan bahkan mungkin ratusan kali di tanyakan atau kita tanyakan. 

Bismillahirrahmaanirrahiim, Sangat sering kita mendengar/ditanya oleh orang tua ,saudara, kerabat dan handai tolan, guru, pacar bahkan juga oleh teman cyber yang baru kita kenal. Bahkan saat kita belum bisa bicara dan mendefinisikan arti sebuah kata (apalagi cita-cita), orang tua dan orang-orang dewasa di sekitar kita sudah mencetuskan harapan yang diharapkan jadi cita-cita (kita) anaknya kelak. Dan kita pun (automatically) saat sudah besar mengucapkan kalimat semakna kala mengajak “bicara” anak kecil (balita).

Kalau mendapat pertanyaan tentang cita-cita, sebagian orang memang tak dapat menjawab (karena bingung saking banyak daftar keinginannya), ada yang hanya menjawab dalam hati (pakai ilmu kebatinan kali..), dan ada juga yang menjawab dengan sangat optimis plus confidence misalnya adalah ingin jadi presiden, Hakim, Polisi, Pilot, Guru, Dokter, Ustadz, etc. And the most wanted: kecil dimanja, besar foya-foya, tua kaya-raya dan mati masuk syurga ( nah yang ini namanya big day dreaming totally…).
Astronot; penulis; dokter; pilot; menteri; presiden
ASTRONOT, itulah cita-cita pertama saya saat masih SD
Dimulai saat SD, aku mulai mencetuskan “cita-cita” tidak hanya dalam angan-angan tapi juga secara tertulis. Biasanya menjelang kelulusan sekolah, antar teman saling tukar buku untuk di isi biodata (buat kenang-kenangan), seolah sudah jadi ritual dimana salah satu point yang diisikan adalah cita-cita (ku) apa.  Dan setiap kali itu pula, cita-cita yang aku sebutkan tidak pernah sama, aku ingat sekali kalau jawabanku selalu berbeda dari waktu ke waktu.  
Cita-cita yang pertama kali aku sebutkan dulu adalah: astronot… Kala itu nama Pratiwi Sudarmono sebagai astronot wanita Indonesia benar - benar terkenal. 
Kala itu aku ingin bisa jalan-jalan “melihat” bintang –bintang di langit…hemm….Saat SMP aku bilang ingin jadi Insinyur Pertanian (karena terbawa ‘euforia’ tiap hari ke sawah, hehehe..). kemudian ganti ingin jadi apoteker, terus ingin jadi penulis karena setiap hari pinjam buku perpustakaan jadi ingin menulis buku dengan imajinasiku sendiri. Jadi ingat, gara-gara antusias baca buku perpustakaan sampai-sampai aku dapat ceramah “bebas” dari salah satu guru kala itu karena waktu beliau kasih penjelasan aku asyik membaca buku ( maksudku biar cepat selesai kemudia ditukar bukunya dengan teman yang lain karena jatah pinjam bukunya kan terbatas).

Nah karena bingung suka gonta-ganti cita-cita, maka saat SMA aku redesign cita-cita: Ingin hidup bahagia dunia dan akherat. Hahahahaa….So great isn’t it?

Cita-cita, ada yang menyebutnya impian (BUKAN mimpi lho…) merupakan harapan-harapan yang ingin diraih di waktu yang akan datang (baik untuk jangka pendek atau panjang). Dengan serangkaian cita-cita akan menjadi formula katalisator yang memacu dan membakar adrenalin ‘semangat’ diri untuk mengoptimalkan setiap kesempatan serta menerima semua kesulitan/rintangan sebagai tantangan. Satu Cita-cita tercapai akan memunculkan rumusan harapan baru berikutnya. Tercapainya sebuah cita-cita akan menjadi awal lahirnya cita-cita baru berikutnya, dan kalau dikriteriakan (menurutku) cita-cita bisa dikategorikan dalam empat jenis untuk keterkaitannya dengan: Religius (agama), terhadap lawan jenis ( romance), status ekonomi (materi); status sosial (pangkat/jabatan/profesi/tahta).

Dengan berjalannya waktu dan bertambahnya pemahaman, sedikit demi sedikit aku mulai mengerti bahwa cita-cita adalah keinginan-keinginan yang ingin kita raih/wujudkan dalam rangka proses untuk meraih tujuan hidup. Jadi cita-cita belum tentu tujuan hidup tapi TUJUAN Hidup (InsyaAllah) sudah pasti cita-cita. Maka tidak salah kalau kemudian aku bilang cita-citaku Ingin hidup bahagia dunia dan akherat

Apapun cita-cita yang kita deklarasikan: presiden, dokter, astronot, petani,tukang becak, pilot, bapak/ ibu rumah tangga,etc…..but the Goal is the same: we wanna happy life ever after. Karena setiap orang di anugerahi serba perbedaan (kemampuan, ketertarikan, enthusiasm, dan variable serta faktor-faktor lainnya yang completely different, maka cetusan cita-citanya dan cara serta jalan yang di tempuh untuk menggapai tujuan hidup akan berbeda-beda.

Ibarat sebuah perjalanan, maka hakekatnya tujuan semua orang pada akhirnya sama tapi rute dan cara yang kita gunakan untuk menuju tempat tujuan yang berbeda-beda serta mengalami perubahan (penyesuaian) dengan keadaan yang progress. Dan kalau di imajinasikan sebuah bangunan, maka terbentuknya sebuah bangunan yang indah dan kokoh adalah tujuan kita, cita-cita adalah rancangan/desain bangunan kehidupan seseorang, serangkaian material (kemauan, keterampilan, wawasan, potensi diri, etc) yang saling mendukung secara simultan terbentuknya bangunan tersebut.

Kalau mereview dari sekian daftar cita-citaku (yang pernah ada dan masih akan bertambah), selain ada yang mengalami ‘seleksi alam’, berubah atau mengalami adaptasi (kompromi) dengan realitas hidup. Ada satu cita-citaku saat masa remaja yang belum pudar sampai sekarang (semoga semakin bersemangat) yaitu ingin jadi penulis karena tidak hanya sifatnya yang flexible yaitu menulis bisa dilakukan any time and any where, akan tetapi buatku menulis adalah " membaca". 

Menulis dan membaca adalah kegiatan satu paket yang terintegrasi (saling melengkapi). Tidak hanya membaca text/buku tapi membaca dinamika sosial, pikiran/pendapat orang lain, perkembangan teknologi dan membaca nurani kita sendiri. Dengan tulisan yang kita buat maka akan bisa berkomunikasi dan menyampaikan inspirasi kita pada orang lain secara lintas gender, kultur, usia, ruang dan waktu (long lasting). 
Dan yang paling membahagiakan adalah jika tulisan kita bisa membawa pencerahan dan memberikan motivasi (positive effects) buat orang yang membacanya sehingga menulis bisa bagian dari syiar dan ibadah. I hope so..Amiiin

3 comments: Leave Your Comments

  1. kalo aku di tanya cita2ku hanya ingin menjadi org sederhana,,, nah lohh:D

    ReplyDelete
  2. @al kahfi: Sederhana, belum tentu sederhana pula utk memperjuangkannya...sederhana/gak, tergantung kita mendeskripisikannya kan?

    ReplyDelete
  3. Ngomongin cita cita pasti setiap orang memiliki cita yang berbeda beda dan pasti kalau ditanya cita cita setiap orang hampir dipastikan cita citanya sangat tinggi dan itu sebetulnya bagus karena untuk memberikan suntikan motivasi untuk masa depannya nanti.

    ReplyDelete

Leave a comment or just be silent reader, still thank you so much.
Terima kasih telah singgah di Kidung Kinanthi.
Mohon maaf, komentar terindikasi SPAM atau yang mengandung link hidup tidak akan dipublikasikan...
So, be wise and friendly.